GANGGUAN BERBAHASA
1. Gangguan Berbicara
Berbicara merupakan aktivitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh karena itu, gangguan berbicara ini dapat di kelompokkan ke dalam dua kategori. Pertama, gangguan mekanisme berbicara yang berimplikasi pada gangguan organik; dan kedua, gangguan berbicara psikogenik (Chaer, 2009:149).
a. Gangguan Mekanisme Berbicara
Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (perkataan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan dan paru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan mekanismenya dapat terjadi akibat kelainan pada paru-paru (pulmonal), pada pita suara (laringal), pada lidah (lingual), dan pada rongga mulut serta kerongkongan (resonantal).
1. Gangguan Akibat Faktor Pulmonal
Gangguan berbicara ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru . Para penderita penyakit paru-paru ini kekuatan bernapasnya sangat kurang, sehingga cara berbicaranya di warnai oleh nada yang monoton, volume suara yang kecil sekali, dan terputus-putus, meskipun dari segi semantik dan sintaksis tidak ada masalah.
2. Gangguan akibat Faktor Laringal
Gangguan pada pita suara menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang sama sekali. Gangguan berbicara akibat faktor laringal ini di tandai oleh suara serak atau hilang, tanpa kelainan semantik dan sintaksis. Artinya, dilihat dari segi semantik dan sintaksis ucapannya bisa di terima.
3. Gangguan Akibat Faktor lingual
Lidah yang sariawan atau terluka akan terasa pedih jika digerakkan. Untuk mencegah rasa sakit itulah cara berbicara di atur dengan gerak lidah yang dibatasi. Dalam kondisi seperti ini maka pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna. Misalnya kalimat “Sudah barang tentu dia akan menyangkal” mungkin akan diucapkan menjadi “Hu ah ba-ang ke-ku ia a-an me-angkay”.
Pada orang yang terkena stroke dan badannya lumpuh sebelah, maka lidahnya pun lumpuh sebelah. Oleh karena itu, cara berbicaranya menjadi pelo atau cadel yang dalam istilah medis disebut disatria (terganggunya artikulasi).
4. Gangguan Akibat Faktor Resonansi
Gangguan akibat faktor resonansi ini menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau. Misalnya yang di derita orang sumbing akibat gangguan resonansi pada langit-langit keras (palatum) pada rongga mulut. Selain itu juga terjadi pada orang yang mengalami kelumpuhan pada langit-langit lunak (velum). Rongga langit-langit itu tidak memberikan resonansi yang seharusnya sehingga suaranya menjadi bersengau. Penderita penyakit miastenia gravis (gangguan yang menyebabkan otot menjadi lemah dan cepat lelah) sering dikenali secara langsung karena kesengauan ini.
b. Gangguan Akibat Multifaktorial
Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai faktor bisa mnyebabkan terjadinya berbagai gangguan berbicara. Antara lain adalah sebagai berikut.
1. Berbicara Serampangan
Berbicara serampangan atau sembrono adalah berbicara denga cepat sekali, dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan menelan sejumlah suku kata, sehingga apa yang di ucapkan sukar dipahami. Dalam kehidupan sehari – hari kasus ini memang jarang dijumpai, tetapi di dalam praktek kedokteran sering ditemui. Umpamanya kalimat ”kemarin pagi saya sudah beberapa kali ke sini ” diucapkan dengan cepat menjadi ”kemary sdada brali ksni”. Berbicara serampangan ini karena kerusakan di serebelum atau bisa jug terjadi sehabis terkena kelumpuhan ringan sebelah badan.
2. Berbicara Propulsif
Gangguan berbicara propulsif biassanya terdapat pada para penderita penyakit parkinson (kerusakan pada otak yang menyebabkan otot menjadi gemetar, kaku, dan lemah). Para penderita penyakit ini biasanya bermasalah dalam melakukan geraka – gerakan. Mereka sukar sekali untuk memulai suatu gerakan. Namun, bila sudah bergerak maka ia dapat terus – menerus tanpa henti. Gerak yang laju terus itu disebut propulsi. Pada waktu berbicara ciri khas ini akan tampak pula. Artikulasi sangat terganggu karena elastisitas otot lidah, otot wajah, dan pita suara, sebagaian besar lenyap. Dalam pada itu volume suaranya kecil, iramanya datar (monoton). Suaranya mula – mula tersendat – sendat, kemudian terus – menerus, dan akhirnya tersendat – sendat kembali. Oleh karena itu, cara berbicara seperti ini disebut prupilsif.
3. Berbicara Mutis (Mutisme)
Penderita gangguan mutisme ini tidak berbicara sama sekali. Sebagian dari meraka mungkin dapat dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak mau berbicara. Mutisme ini sebenarnya bukan hanya tidak dapat berkomunikasi secara verbal saja, tetapi juga tiak dapat berkomunikasi secara visual maupun isyarat, seperti dengan gerak – gerik dan sebagainya.
Mutisme tidak bisa disamakan dengan orang bisu, apalagi dengan bisu – tuli. Dalam hal kebisuan ini sebenarnya perlu dibedakan adnya tiga macam penderita. Pertama, orang yang bisu karena kerusakan ataua kelainan alat artikulasi, sehingga dia tidak bisa memproduksi ujaran-bahasa, tetapi alat dengarnya normal sehingga dia dapat mendengar suara-bahasa orang lain. Kedua, orang yang bisu karena kerusakan atau kelainan alat artikulasi dan alat pendengarnya, sehingga dia tidak bisa memproduksi ujaran-bahasa dan juga tidak bisa mendengar ujaran-bahasa orang lain. Ketiga, orang bisu yang sebenarnya alat artikulasinya normal tidak ada kelainan, tetapi alat pendengarannya rusak atau ada kelainan. Orang golongan ketiga iini menjadi bisu karena dia tidak pernah mendengar ujaran-bahasa orang lain, sehingga dia tidak bisa menirukan ujaran-bahasa itu.
c. Gangguan Psikogenik
Ganguan berbicara psikogenik ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai suatu gangguan berbicara. Mungkin lebih tepat disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal, tetapi yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagaian besar ditentukan oleh nada, inotonassi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yanng berirama lancar atau tersendat –sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara. Gangguan berbicara psikogenetik ini antara lain sebagai berikut :
1. Berbicara Manja
Disebut berbicara manja karena ada kesan anak (orang) yang melkaukanya meminta perhatian untuk dimanja. Umpamanya kanak yang baru terjatu, terluka, atau mendapat kecelakaan, terdengar adanya perubahan pada cara berbicaranya. Fonem atau bunyi [s] dilafalkan sebagai bunyi [c] sehinga kalimat ”saya sakit, jadi tidak suka makan, sudah saja ya” akan diucapkan menjadi ”caya cakit, jadi tidak cuka makan, cudah saja ya”. Dengan berbicara demikian dia mengungkapkan keinginannya untuk dimanja. Gejala seperti ini kita dapati juga pada orang tua pikun atau jompo (biasanya wanita). Gejala ini memberikan kesan bahwa struktur bahasa memiliki substrat serebral. Namun, bagaimana struktur organisasinya belum diketahui dengan jelas. Masih dalam penelitian.
2. Berbicara Kemayu
Berbicara kemayu berkaitan dengan perangai kewanitaan yang berlebihan. Jika seorang pria bersifat atau bertingkah laku kemayu jelas sekali gambaran yang dimaksudkan oleh istilah tersebut. Berbicara kemayu dicirikan oleh gerak bibir dan lidah yang menarik perhatian dan lafal yang dilakukan secara ekstra menonjok atau ekstra lemah gemulai dan ekstra memanjang. Meskipun berbicara seperti ini bukan suatu gangguan ekspresi bahasa, tetapi dapat dipandang sebagai sindrom fonologik yang mengungkapakan gangguan identitas kelamin terutama jika yang dilanda adalah kaum pria.
3. Berbicara Gagap
Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat–sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan. Acapkali si pembicara tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, hanya dengan susah payah berhasil mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. Lalu dia memilih kata lain, dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga. Dalam usahanya mengucapkan kata pertama yang barangkali gagal, si pembicara menampakkan rasa letih dan rasa kecewanya. Beberapa hal dianggap mempunyai peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan, yaitu:
1) Faktor – faktor stres dalam kehidupan berkeluarga
2) Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan ketat, dengan membentak-bentak, serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
3) Adanya faktor kerusakan pada belahan otak yang dominan
4) Faktor neurotik famial
4. Berbicara Latah
Latah sering disamakan dengan ekolalla, yaitu perbuatan membeo atau menirukan apa yang dikatakan orang lain, tetapi sebenarnya latah adalah sindrom yang terdiri atas curah verbal repetitif yang bersifat jorok (kaprolalla) dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Kaprolalla pada latah ini beroriantaasi pada alat kelamin laki – laki. Yang sering dihinggapi penyakit latah adalah orang perempuan berumur 40 tahun ke atas. Awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adalah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki besar dan sepanjang belut. Latah ini merupakan “excuse” atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkah laku porno, yang hakikatnya berimplikasi invitasi seksual (lihat juga W.F. Maramis, 1998: 416-418).
2. Gangguan Berbahasa
Berbahasa berarti berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa. Anak-anak yang lahir dengan alat artikulasi dan auditori yang normal akan dapat mendengar kata-kata melalui telinganya dengan baik dan juga akan dapat menirukan kata-kata itu. Pada mulanya ucapan tiruannya itu Cuma mirip, tapi lambat laun akan menjadi tegas dan jelas. Proses memproduksi kata-kata itu berlagsung terus sejalan dengan proses pengembangan pengenalan dan pengertian ( gnosis dan kognisis). Dalam perkembangan itu kata-kata akan menjadi perkataan yang merupakan abstraksi atau kata-kata yang mengandung makna.
Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah Broca dan Wernicke harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia, dalam hal ini Broca sendiri menamai afemia.
Kajian tentang afasia atau afasiologi dalam perkembangannya menghasilkan berbagai taksonomi yang sangat membingungkan seperti yang dibuat Benson (1975), Rapin (neurolog kanak-kanak), dan Allen (psikolinguis) (Rapin dan Allen, 1988); tetapi taksonomi yang telah disederhanakan Benson, afasia ini dibedakan atas afasia ekspresi atau afasia motorik, yang dulu dikenal sebagai aasia tipe Broca, dan afasia reseptif atau afasia sensorik yang dulu dikenal sebagai afasia Wernicke.
a. Afasia Motorik
Kerusakan pada belahan otak yang dominan yang menyebabkan terjadinya afasia motorik bisa terletak pada lapisan permukaan (lesikortikal) daerah Broca. Atau pada lapisan di bawah permukaan (lesi subkrotikal) daerah Broca atau juga di daerah otak antara Broca dan daerah Wernicke (lesi transkortikal). Oleh karena itu, didapati adanya tiga macam afasia motorik ini, antara lain:
1. Afasia motorik Kortikal
Tempat menyimpan sandi-sandi perkataan adalah di korteks daerah Broca. Maka apabila gudang penyimpanan itu musnah, tidak akan ada lagi perkataan yang dapat dikeluarkan. Jadi, afasia motorik kortikal ini masih bisa mengerti bahasa lisan dan bahasa tulisan. Namun, ekspresi verbal tidak bisa sama sekali, sedangkan ekspresi visual masih dilakukan.
2. Afasia Motorik Subkortikal
Sandi-sandi perkataan disimpan di lapisan permukaan daerah Broca, maka apabila kerusakan terjadi pada bagian bawahnya semua perkataan masih tersimpan utuh di dalam gudang. Namun, perkataan itu tidak dapat dikeluarkan karena hubungan terputus, sehingga perintah untuk mengeluarkan perkataan tidak dapat disampaikan. Melalui jalur lain tampaknya perintah untuk mengeluarkan perkataan masih dapat disampaikan ke gudang penyimpanan perkataan itu (gudang Broca) sehingga ekspresi verbal masih mungkin dengan mengeluarkan isi pikirannya dengan menggunakan perkataan, tetapi masih bisa mengeluarkan perkataan dengan cara membeo. Selain itu, pengertian bahasa verbal dan visual tidak terganggu, dan ekspresi visual pun berjalan normal.
3. Afasia Motorik Transkortikal
Afasia motorik trankortikal terjadi karena terganggunya hubungan antara daerah Broca dan Wernicke. Ini berarti, hubungan langsung antara pengertian dan ekspresi bahasa terganggu. Pada umumnya afasia motorik transkortikal ini merupakan lesikortikal yang merusak sebagian daerah Broca. Jadi, penderita afasia motorik transkortikal dapat mengutarakan perkataan yang singkat dan tepat, tetapi masih mungkin menggunakan perkataan substitusinya.
Semua penderita afasia motorik jenis apapun bersikap tidak berdaya, karena keinginan untuk mengutarakan isi pikirannya besar sekali, tetapi kemampuan untuk melakukannya tidak ada sama sekali. Mereka pun sering jengkel karena apa yang diekspressikantidak dipahami sama sekali oleh orang disekelilingnya, padahal untuk menghasilkan curah verbal yang tidak dipahami itu, mereka sudah berusaha keras.
4. Afasia Sensorik
Penyebab terjadinya afasia sensorik adalah akibat adanya kerusakan pada lesikortikal didaerah Wernicke pada hemisferium yang dominan. Daerah itu terletak di kawasan asosiatif antara daerah visual, daerah sensorik, daerah motorik, dan daerah pendengaran. Keruskan di daerah Wernicke ini menyebabkan bukan saja pengertian dari apa yang dilihatikut terganggu. Jadi, penderita afasia sensorik ini kehilangan pengertian bahasa lisan dan bahasa tulis. Namun, diamasih memiliiki curah verbal meskipun hal ini tidak dipahami oleh dirinya sendiri, maupun oleh orang lain.
Curah verbalnya itu merupakan bahasa baru (neologisme) yang tidak dipakami oleh siapapun. Curah verbalnya itu sendiri terdiri dari kata-kata, ada yang mirip, ada yang tepat dengan perkataan suatu bahasa., tetapi kebanyakan tidak sama atau sesuai dengan perkataan bahasa apa pun.
Neologismenya itu diucapkannya dengan irama, nada, dan melodi yang sesuai dengan bahasa asing yang ada. Sikap mereka pun wajar-wajar saja, seakan-akan dia berdialog dalam bahasa yang saling dimengerti. Dia bersikap biasa, tidak tegang, marah, atau depresi. Sesungguhnya apa yang diucapkannya maupun apa yang didengarnya keduanya sama sekali tidak dipahaminya.
Proses belajar bahasa yang mencakup berbicara, dikenal dengan proses ekspresif dan memahami suatu bahasa (proses komprehensi) merupakan proses yang melibatkan neuron-neuron dalam serebral otak manusia. Otak manusia memiliki fungsi sangat beragam, salah satu fungsinya adalah melakukan pemrosesan bahasa. Fungsi ini tidak ditemukan secara lengkap dan memadai dalam diri mahluk lain, meskipun ada kemiripan struktur otaknya. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukan atau mengikuti suatu hal untuk berbahasa (Arifudin, 2010:276).
Gangguan atau cedera otak yang salah satu akibatnya mengganggu kemampuan berbahasa atau berbicara sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kerusakan atau gangguan pada kedua daerah tersebut menyebabkan gangguan berbahasa yang disebut afasia dan penderitanya disebut aphasic. Berdasarkan bentuk ujarannya atau bahasa yang dihasilkannya, kerusakan pada kedua daerah tersebut memperlihatkan karakteristik yang berbeda, sehingga dikenal denga afasia Broca dan afasia Wernick. Arifudin menggolongkan jenis-jenis afasia ke dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
1. Afasia Daerah Depan
Jenis afasia ini didasarkan pada daerah tempat terjadinya, yaitu di bagian otak depan. Segera setelah seseorang mengalami cedera otak bagian depan (anterior), dia mengalami kesulitan memproduksi ujaran, misalnya ujaran yang penuh jeda (pauses) dan pengulangan. Afasia interior ini lebih disebabkan oleh gangguan artikulasi alat ujar yang menentukan alat-alat ujar penghasil bunyi bahasa seperti mulut, bibir, lidah, dan lain sebagainya. Beberapa bentuk afasia interior antara lain :
- Agrammaria
Adanya afasia anterior ditandai dengan gangguan ujaran yang nyata. Ketidak mampuan memproduksi dan memahami kalimat-kalimat yang gramatikal disebut agrammatic/agrammaria sementara penderitanya disebut agrammarian.
- Kesulitan menemukan makna (semantic) kata-kata, meskipun penderitan afasia memahami kata-kata isi (konten words) tertentu lebih baik dibandingkan mereka memahami makna kalimat secara untuh, pemahaman dan kemampuan menghasilkan kata-kata secara terpisah umumnya juga terbatas. Mereka mengalami kesulitan mengidentifikasi acua (referents) yan sebenarnya mereka kenali.
2. Afasia Posterior (Aphasia posterior)
Afasia ini merupakan kebalikan dari afasia anterior, yaitu terjadinya cedera atau gangguan otak bagian belakang. Perbedaan yang paling mencolok dari kedua afasia ini adalah kefasehan/kelancaran berbahasa. Meskipun penderitan afasia anterior cenderung memproduksi kata-kata yang tidak tertata dan tidak bermakna, pemahaman berbahasa mereka masih lebih baik. Sebaliknya, penderita afasia posterior meskipun lancar memproduksi ujaran tetapi pemahaman dan daya analisis mereka sangan lemah. Ciri yang menonjol dari penderita afasia posterior yaitu munculnya ujaran yang maknanya tidak jelas (meaningless), sering muncul ketidak jelasan acuan kata, bahkan pengguanaan kata-kata yang tidak tepat.
3. Afasia Broca (Broca’s aphasia)
Nama broca didasarkan pada ahli bedah asal prancis Paul Broca broca ditemukan pada tahun 1864, hal ini merupakan pembenaran dari pendapat Dax. Broca menjuluki pasiennya dengan nama “Pak Tan” sebuah nama yang diberikan sesuai dengan satu-satunya kata yang mampu diucapkan oleh orang itu. Tan dapat menulis dengan baik sebagaimana dilakukan oleh orang normal mampu memahami bahsa lisan dengan baik, dan mampu menggerakan bibir dan lidahnya dengan baik apabila diperintahkan untuk melakukannya, hanya saja dia tidak dapat menuturkan ujaran yang bermakna.
Broca berhipotesis bahwa pasiennya menderita gangguan berbahasa akibat adanya cedera hemisfer kiri otak. Dari delapan penderita afasia yang dia teliti semuanya mengalami cedera otak sebelah kiri. Broca menyimpulkan (Pinker, 1994:299) bahwa “piranti artikulasi bahasa” (the faculty of articulate language) berada pada hemisfer kiri otak. Temuan Broca tersebut didukung oleh berbagai studi lain. Salah satunya adalah temuan bahwa bagian badan sebelah kanan dikendalikan oleh hemisfer kiri otak dan sebalinya.
Bukti lain bahwa kesalahan tata bahasa itu disebabkan oleh cedera hemisfer kiri otak khususnya pada daerah Broca, adalah ketika seorang membaca sebuah kalimat, elektroda-elektroda diletakkan pada bagian depan hemisfer kiri memperlihatkan pola aktivitas elektrik berbeda pada titi-titik atau bagian-bagian kalimat yang tata bahasanya tidak gramatikal.
Penyebab terjadinya afasia daerah Broca lama atau permanen adalah akibat rusaknya daerah sekitar Broca yang turut memperparah afasia Broca. Kadang-kadang gejala afasia Broca adalah berupa terjadinya stroke atau penyakit parkinson yang merusak ganglia “basal”, yaitu pusat saraf kompleks yang ada dalam lobus frontal (Pinker, 1994:309).
Penderita afasia Broca ini juga disebut sebagai penderita nonfluent aphasia atau motor aphasia. Dia mengalamai kesulitan dalam menghasilkan ujaran yang gramatikal, yaitu hanya bisa menuturkan kata-kata yang tidak disertai penanda gramatikal atau kata-kata kunci. Berikut ini sebuah contoh ujaran pencerita afasia Broca:
Cookie jar... fall over... chair.. water.. empty...ov...ov... yeah
Dari contoh tersebut tampak bahwa penderita afasia Broca hanya mampu mengekspresikan atau menuturkan inti (isi) ujaran, tanpa disertai penanda gamatikal atau kata-kata fungsi (function words) yang diperlukan bagai bahasa yang sempurna. Pendengar tentu dapat memahami ujaran tersebut, meskipun mungkin dengan usaha lebih keras dibandingkan dengan usaha yang diperlukan ketika menyimak ujaran normal.
4. Afasia Wernicke
Nama afasia ini sesuai dengan nama dokter Jerman yang menemukan dan mendeskripsikan daerah Wernicke. Penderita afasia Wernicke mengalami kerusakan otak pada daerah Wernicke. Dia tidak memperlihatkan adanya gangguan artikulasi atau kesulitan menghasilkan ujaran fisik. Dia dapat mengucapkan serangkaian kata-kata dengan benar tanpa membuat kesalahan pengucapan dan ketidaktepatan penggunaan tata bahasa. Yang menjadi masalah adalah ujaran yang dia ucapkan membingungkan dan tidak bermakna. Dengan kata lain, penderita afasia Wernicke mampu menuturkan bahasa dengan lancar dan dengan bahasa yang relatif gramatikal, tetapi ujaran tersebut cenderung sulit dipahami atau tidak bermakna. Penderita afasia Wernicke juga sulit memberi nama atau menyebut nama-nama benda, meskipun dia tahu namanya.
5. Afasia Motorik (Motoric aphasia)
a. Afasia Motorik Kortikal
Kalau tempat penyimpanan kata-kata pada daerah korteks Broca terganggu atau cedera, penderita tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi atau mengeluarkan kata-kata atau mengutarakan pikirannya, meskipun dia masih mampu memahami ekspresi visual, baik bahasa isyarat mapupun bahasa tulis.
b. Afasia Motorik Subkortikal
Bilamana terjadi gangguan atau kerusakan pada daerah di bawah Broca, kata-kata tidak dapat dikeluarkan/ diproduksi, meskipun dia masih bisa “membeo” saja karena terputusnya jalur hubungan antara daerah Broca (bagaian kortikal) dan daerah di bawahnya (subkortikal).
c. Afasia Motorik Transkortikal
Gangguan berbahasa tipe ini terjadi akibat terganggunya hubungan antara daerah Broca dan daerah Wernicke yang menyebabkan tidak harmonisnya proses pemahaman dan ekspresi bahasa atau kata-kata.
6. Afasia Sensorik (Sensoric aphasia)
Gangguan berbahasa tipe ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada daerah Wernicke, tepatnya di daerah lesikortikal. Kerusakan di daerah ini menyebabkan gangguan pemahaman auditoris dan pemahaman visual yang cukup serius. Dengan kata lain, penderita tidak mampu memahami bahasa lisan dan bahasa tulis, meskipun masih mampu memahami bahasa lisan yang tidak bermakna dan sulit dipahami, termasuk oleh dirinya sendiri. Penderita gangguan bahasa seperti ini sulit membedakan bunyi fonem-fonem yang mirip, seperti /b/ dan /p/ dalam kata ‘bara’ dengan ‘para’ atau fonem /d/ dan /t/ dalam kata ‘duri’ dan ‘turi’.
7. Afasia Tak Fasih (Expessive aphasia)
Afasia jenis ini dikaitkan dengan ketidakfasihan penderita dalam menghasilkan ujaran, seperti ujaran yang tidak tertata dengan baik.
8. Afasia Fasih (Receptive aphasia)
Penderita afasia jenis ini tidak memahami ujaran dengan memadai dan hanya mampu menghasilkan ujaran atau kalimat-kalimat yang tidak bermakna.
9. Afasia Dinamis
Menurut Mar’at (2005:87), afasia dinamis diperlihatkan oleh ketidakmampuan penderita untuk menyusun struktur sintaksis yang baru, dia hanya dapat menggunakan ujaran dengan pola sintaksis (struktur kalimat) yang sudah dikenal dan sering dipakai, sehingga pola kalimat yang digunaknnya tampak monoton. Dia tidak mampu mengkreasikan ungkapan atau pola kalimat yang berbeda.
3. Gangguan Berpikir
Dalam sosiolinguistik ada dikatakan bahwa setisp orang mempunyai kecenderungan untuk menggunakan perkataan-perkataan yang disukainya sehingga corak bahasanya adalah khas bagi dirinya. Hal ini dalam sosiolinguistik disebut idiolek, atau ragam bahasa perseorangan.
Dalam memilih dan menggunakan unsur leksikal, sintaksis, dan semantik tertentu seseotang menyiratkan afeksi dan nilai pribadinya pada kata-kata dan kalimat-kalimat yang dibuatnya. Hal ini berarti, setiap orang memproyeksikan kepribadiannya pada gaya bahasanya. Lalu kalau diingat bahwa ekspresi verbal merupakan pengutaraan isi pikiran, maka yang tersirat dalam gaya bahasa tentu adalah isi pikiran itu. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa ekspresi verbal yang terganggu bersumber atau disebabkan oleh pikiran yang terganggu pikiran berupa hal – hal berikut :
a. Pikun (Demensia)
Orang yang pikun menunjukkan bnyak sekali gangguan seperti agnosia, apraksia, amnesia, perubahan kepribadian, perubhan perilaku, dan kemunduran dalam segala macam fungsi intelektual. Semua gangguan itu menyebabkan kurangnya berfikir, sehingga ekspresi verbalnya diwarnai dengan kesukaran menemukan kata-kata yang tepat. Kalimat seringkali terputus karena arah pembicaraan tidak teringat atau tidak diketahui lagi, sehingga berpindah ke topik lain.
Dr. Martina Wiwie S. Nasrun (Media Indonesia, 21 Mei 2001) mengatakan bahwa kepikunan atau demensia adalah suatu penurunan fungsi memori atau daya ingat dan daya pikir lainnya yang dari hari ke hari semakin buruk. Gangguan kognitif ini meliputi tergangguanya ingatan jangka pendek, kekeliruan mengetahui tempat, orang, dan waktu. Juga gangguan kelancaran bicara.
Penyebab pikun ini antara lain karena terganggunya fungsi otak dalam jumlah besar, termasuk menurunnya jumlah zat-zat kimia dalam otak. Biasanya volime otak akan mengecil atau menyusut, sehingga rongga-rongga dalam otak melebar. Selai itu dapat pula disebabkan oleh penyakit seperti stroke, tumor otak, depresi dan gangguam sistemik. Pikun yang disebabkan oleh depresi dan gangguan sistemik dapat pulih kembali, tetapi kebanyakan kasus demensia lainnya tidak dapat kembali ke kondisi sebelumnya.
b. Sisofrenik
Sisofrrenik adalah gangguan berbahasa akibat gangguan berpikir. Dulu pada para penderita sisofrenik kronik juga dikenal istilah schizophrenik word salad. Para penderita ini dapat mengucapkan word salad ini dengan lancar. Dengan volume yang cukup, ataupun lemeh sekali. Curah verbalnya penuh dengan kata-kata neologisme. Irama serta intonasinya menghasilkan curah verbal yang melodis.
Penderita sisifrenia dapat berbicara terus-menerus. Ocehanya hanya merupakan ulangan curah verbal semula dengan tambahan sedikit-sedikit atau dikurangi beberapa kalimat. Gaya bahasa sisifren dapat dibedakan dalam beberapa tahap dan menurut berbagai kriteria. Yang utama adalah diferensiasi dalam gaya bahasa sisofrenia halusinasi dan pasca halusinasi.
Sebelum diganggu halusinasi, bahasa para penderita sisofrenik ini tampak terganggu. Pada tahap awal penderita sisofrenia ini mengisolasi pikirannya. Tidak banyak berkomunikasi dengan dunia luar, tetapi banyak berdialog dengan diri sendiri. Ekspresi verbal terbatas, tetapi kegiatan dalam dunia bahasa internal (berbahasa dalam pikiran diri sendiri)sangat ramai. Oleh karena itu, gangguan ekspresi verbal sisofrenia tahap awal ini menyerupai mutisme efektif.
c. Depresif
Orang yang tertekan jiwanya memproyeksikan penderitaannya pada gaya bahasanya dan makna curah verbalnya. Volume curah verbalnya lemah lembut dan kelancarannya terputus-putus oleh interval yang cukup panjang. Namun, arah arus isi pikiran tidak terganggu. Kelancaran bicaranya terputus oleh tarikan nafas dalam, serta pelepasan napas keluar yang panjang. Perangai emosional yang terasosiasi dengan depresi itu adalah universal. Curah verbal yang depresif dicoraki oleh topik yang menyedihkan, menyalahi dan mengutuk diri sendiri, kehilangan gairah bekerja dan gairah hidup, tidak mampu menikmati kehidupan. Malah cenderung mengakhirinya.
4. Gangguan Lingkungan Sosial
Yang dimaksud dengan faktor lingkungan adalah terasingnya seorang anak manusia, yang aspek biologis bahasanya normal dari lingkungan kehidupan manusia. Keterasingannya bisa disebabkan karena diperlakkukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bisa juga karena hidup bukan dalam alam lingkungan manusia, melainkan dipelihara oleh binatang serigala, seperti kasus Kamala dan Mougli (Chauchard, 1983: 68-69).
Anak terasing tidak sama dengan kasus anak tuli. Anak tuli masih hidup dalam masyarakat manusia. Maka, meskipun dia terassing dari kontak bahasa, tetapi dia masih dapat berkomunikasi dengan orang disekitarnya. Sedangkan anak terasing menjadi tidak bisa berkomunikasi dengan manusia karena dia tidak pernah mendengar suara-ujaran manusia. Beda antara anak terasing yang tidak pernah mendengar suara orang dan anak tuli adalah bahwa anak tuli dirugikan karena tidak bisa mendengar suaranya sendiri maupun suara orang lain. Suara–suaranya sendiri hanya bisa dirasakan sebagai gerak–gerak urat dan otot ddaging mulut. Suara anak tuli tidak seberapa kuat jika dibandingkan dengan anak yang tidak tuli. Suara-suara anak tuli lekas sekali berhenti, meskipun ia tetap mampu merasakan gerakan mulut dan suara-suaranya waktu sedang mengeluarkan suara itu. Dia merassakan gerak mulut itu karena adanya rasa akan getaran-getaran organ-organ pembentuk suara, atau karena dia melihat gerak mulut oranng lain dan lalu dia menirukannya. Pada anak tuli ini tidak ada cukup motivasi agar suara-suaranya bisa berkembang. Hal ini berbeda dengan anak normal yang tercerai dari masyarakat. Dia dapat mengeluarkan suaranya, tetapi ia tidak pernah mendengar suara (perkataan) orang dari sekeliling anak itu sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berbicara. Tanpa mendengar suara-bahasa orang sekeliling tidak mungkin kemampuan berbahasa dapat berkembang. Jadi anak terasing karena tidak ada orang yang mengajak dan diajak berbicara, tidak mungkin dapat berbahasa. Karena dia sama sekali terasing dari kehidupan sodial masyarakat, maka dengan cepat ia menjadi sama sekali tak dapat berbahasa. Otaknya menjadi tidak lagi berfungsi secara manusiawi karena tidak ada yang membuatnya atau memungkinkannya berfungsi demikian. Maka, sebenarnya anak terasing, yang tidak punya kontak dengan manusia, bukan lagi manusia, sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Meskipun bentuk badannya adalah manusia tetapi dia tidak bermatabat sebagai manusia. Otaknya tidak berkembang sepenuhnya, tidak dapat berfungsi dalam masyarakat manusia, dan akhirnya menjadi tidak mampu sebagai manusia setelah beberapa tahun. Anak terasing tidak sama dengan anak primitif, sebab orang primitif masih hidup dalam suatu masyarakat. Meskipun taraf kebudayaannya sangat rendah, tetapi tetap dalam suatu lingkungan sosial. Kanak – kanak mempunyai segala kemungkinan untuk menjadi manusia hanya selama masa kanak – kanak, selepas umur tujuh tahun anak itu tak dapat dididik untuk mempelajari kebudayaan yang lebih tinggi.
Dalam sejarah tercatat sejumlah kasus anak terasing, baik yang diasuh oleh hewan (serigala) maupun yang teraasingkan oleh keluarganya, berikut akan dikemukakan dua contoh kasus:
1. Kasus Kamala
Ketika baru ditemukan Kamala diperkirakan berumur 8 tahun, dan adiknya berumur 2 tahun. Kamala masih hidup sampai 9 tahun kemudian sedangkan adiknya tak lama ditemukan meninggal. Karena hidup di tengah serigala, ia sangat mirip dengan serigala. Ia berlari cepat sekali dengan kedua kaki dan tangan, mengaum-aum, lebih sering bergaul dengan serigala, tidak bercakap satu patah kata pun, dan tidak terlihat adanya mimik emosi di wajahnya. Sangat sukar untuk mengajar dia berdiri, berjalan, menggunakan tangan, apalagi bercakap – cakap. Dia mencium – cium, dan mengendus – endus makanan. Dia memeriksa segala sesuatu dengan alat penciuman, mempunyai penglihatan malam yang tajam, dan memiliki pendengaran yang tajam pula. Dia tidak tersenyum maupun tertawa.
Hidup ditengah binatang membuat manusia bukan manusia lagi. Namun, hal ini membuktikan kemampuan anak manusia dapat menyelaraskan diri hidup dengan serigala secara mengagumkan. Berbeda halnya dengan binatang yang dijinakkan dan dimanusiakan, binatang tetap tidak dapat mempelajari bahasa yang sebenarnya.
Tingkat kecerdasan Kamala tidak diketahui hingga dia meninggal, sebab dia tidak pernah dites dengan tes-tes objektif yang memungkinkan kita mengetahui apakah kecerdasan praktis Kamala yang terbahasakan itu lebih tinggi atau tidak dari kecerdasan seorang anak yang tidak bercakap atau dari seekor kera. Namun, bagaimana pun Kamala tidak lagi mempunyai pikiran yang sebenarnya, pikiran yang reflektif.
2. Kasus Genie
Kalau Kamala terasing dari masyarakat manusia, dan lalu dipelihara atau dibesarkan di tengah-tengah serigala, maka Genie tetap berada dalam asuhan orang tuanya, tetapi dengan cra yang terlepas dari kehidupan manusia yang wajar. Sejak berusis 20 bulan sampai berusia 13 tahun 9 bulan Genie hidup terkucil dalam ruang yang sempit dan gelap dalam posisi duduk dan kaki terikat. Pintu ruangan itu selalu tertutup dan jendela berkelambu tebal. Tidak ada radio atau televisi dirumah itu, dan ayahnya membenci suara apapun. Ayahnya tidak mengizinkannya mendengar suara apa pun, dia akan dihukum secara fisik bila membuat suara. Satu–saatunya orang yang sering ditemuinya adalah ibunya. Namun, si ibu pun dilarang untuk tinggal lama-lama dengan Genie saat memberinya makan. Tanpa berbicara apa-apa si ibu memberi makan Genie dengan selalu tergesa-gesa.
Ketika ditemukan tahun 1970, Genie berada dalam kondisi yang kurang terlibat secara sosial, primitif, terganggu secara emosional, dan tak dapat berbahasa (berbicara). Dia dikirim ke rumah anak-anak Los Angeles dengan diagnosis awal sebagai anak yang menderita kurang gizi yang parah.
Pertama kali mendapat perawatan Genie tidak mampu menggunakan bahasa. Namun, dari evaluasi perawatan bulan-bulan pertama didapat kesimpulan bahwa Genie adalah anak yang terbelakang, tetapi perilakunya tidak seperti anak lemah mental. Meskipun dia mengalami gangguan secara emisional, tetapi dia tidak mengalami gangguan fisik atau mental yang dapat memperkuat ketrbelakangannya. Jadi, keterbelakangannya adalah karena lamanya tekanan psikososial dan fisik yang dialaminya.
Kemampuan berbahasa Genie, yang jelas ketika ditemukan dia tidak dapat berbicara, meskipun telah berumur hampir 14 tahun. Untuk mengetahui apakah dia sudah mengenal bahasa Inggris sebelum dikucilkan, kepadanya diberikan sebagian tes. Dari tes awal diketahui bahwa Genie memahami sejumlah kata-kata lepas yang diucapkan orang lain, tetapi dia hanya memahami sedikit sekali gramatika. Maka dalam hal ini tampaknya dia mendapat tugas yang sulit dan rumit, yakni memperoleh bahasa pertama dengan otak yang sudah masa puber. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Genie mampu memperoleh bahasa itu meski dalam usia yang sudah melewati masa kritis pemerolehan bahasa.
Seperti teori sebelumnya mengatakan bahwa otak berada dalam kondisi paling siap untuk mempelajari bahasa tertentu adalah selama masa kanak-kanak hingga masa puber, atau seperti kata Lenneberg antara usia dua tahun sampai masa akil balig. Namun, disini Genie yang baru belajar bahasa pertama, setelah masa kritisnya dilalui ternyata dapat memperoleh kemampuan berbahasa itu. Dalam banyak hal perkembangan bahasa Genie sama dengan pemerolehan bahasa pertama kanak-kanak yang normal.
Dari sejumlah tes diperoleh informasi bahwa Genie tidak mamiliki fasilitas bahasa pada hemisfer kiri melainkan menggunakan hemisfer kanan, baik untuk fungsi bahasa maupun fungsi nonbahasa. Dalam tes menyimak rangkap dia mempunyai keunggulan telinga kiri yang sangat kuat untuk isyarat-isyarat verbal maupun nonverbal. Hasil tes menyimak rangkap ini memperkuat hipotesis bahwa Genie menggunakan hemisfer kanan untuk berbahasa. Temuan ini juga memperkuat hipotesis mengenai adanya hemisfer yang dominan dan yang tidak dominan.
Dari kasus Kamala dan Genie sebagai contoh kanak-kanak yang mendapat kesulitan berbahasa karena terasingkan dari lingkungannya, memang bisa dilihat adanya satu hal yang sangat berbeda. Kamala terasing dari lingkungan sosial manusia sejak bayi, sehingga dia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk berbahasa. Sedangkan Genie memang terasing tetapi masih berada dalam lingkungan sosial manusia, maka meskipun dengan sangat sukar dia kemudian masih memiliki kemampuan berbahasa meskipun sebagai kemampuan permulaan.
TINJAUAN KRITIS
Proses berbahasa merupakan suatu hal yang vital dan mutlak diperlukan oleh semua manusia bagaimanapun caranya, karena bahasa merupakan salah satu penunjang untuk keberlangsungan hidup manusia sebagai mahluk yang sosial. Dalam realitanya, proses berbahasa memiliki beberapa hambatan atau gangguan yang biasa disebut afasia.
Dalam buku-buku mereka, Arifudin dan Abdul Chaer menggolongkan afasia kedalam beberapa jenis. Keduanya mengkaji gangguan-gangguan berbahasa dari berbagai aspek dan berbagai teori ahli, namun demikian kami menganggap bahwa buku karangan Abdul Chaer yang berjudul “Psikolinguistik Kajian Teoretik” jauh lebih kompleks, khususnya dalam kajian tentang gangguan bahasa. Arifudin hanya memfokuskan diri dalam afasia sementara A. Chaer mengkaji hal lain di luar afasia selain afasia itu sendiri.
Satu hal yang menarik dari buku karangan A. Chaer adalah gangguan bahasa dan gangguan berbicara yang tidak hanya mengkaji tentang gangguan yang terjadi di dalam otak manusia saja.
Gangguan Mekanisme Berbicara
Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (perkataan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan dan paru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan mekanismenya dapat terjadi akibat kelainan pada paru-paru (pulmonal), pada pita suara (laringal), pada lidah (lingual), dan pada rongga mulut serta kerongkongan (resonantal).
Gangguan Akibat Multifaktorial
Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai faktor bisa mnyebabkan terjadinya berbagai gangguan berbicara.
Gangguan Psikogenik
Ganguan berbicara psikogenik ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai suatu gangguan berbicara. Mungkin lebih tepat disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal, tetapi yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagaian besar ditentukan oleh nada, inotonassi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yanng berirama lancar atau tersendat –sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara.
Gangguan Berbahasa
Berbahasa berarti berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa. Anak-anak yang lahir dengan alat artikulasi dan auditori yang normal akan dapat mendengar kata-kata melalui telinganya dengan baik dan juga akan dapat menirukan kata-kata itu. Pada mulanya ucapan tiruannya itu Cuma mirip, tapi lambat laun akan menjadi tegas dan jelas. Proses memproduksi kata-kata itu berlagsung terus sejalan dengan proses pengembangan pengenalan dan pengertian ( gnosis dan kognisis). Dalam perkembangan itu kata-kata akan menjadi perkataan yang merupakan abstraksi atau kata-kata yang mengandung makna.
Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah Broca dan Wernicke harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia, dalam hal ini Broca sendiri menamai afemia.
Kajian tentang afasia atau afasiologi dalam perkembangannya menghasilkan berbagai taksonomi yang sangat membingungkan seperti yang dibuat Benson (1975), Rapin (neurolog kanak-kanak), dan Allen (psikolinguis) (Rapin dan Allen, 1988); tetapi taksonomi yang telah disederhanakan Benson, afasia ini dibedakan atas afasia ekspresi atau afasia motorik, yang dulu dikenal sebagai aasia tipe Broca, dan afasia reseptif atau afasia sensorik yang dulu dikenal sebagai afasia Wernicke.
Teori-teori diatas adalah intisari yang dapat kami peroleh dari buku A. Chaer yang menjadi rujukan pemahaman kami tentang gangguan berbahasa. Jadi gangguan berbahasa tidak hanya terjadi karena kerusakan yang ada di otak saja, namun kerusakan sistem pengolah bahasa dalam tubuh juga dapat menyebabkan kurang produktivitasnya ujaran. Sebagai salah satu penunjang keberlangsungan hidup manusia, bahasa merupakan aspek penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dan tubuh manusia sebagai suatu sistem akan berakibat terganggunya suatu fungsi tubuh termasuk terganggunya proses berbahasa.
KESIMPULAN
Gangguan berbahasa secara garis besar dapat dibagi dua. Pertama, gangguan akibat faktor medis; dan kedua, akibat faktor lingkungan sosial.
1. Faktor medis.
Yang dimaksud dengan faktor medis adalah gangguan, baik akibat kelainan fungsi otak maupun akibat kelainan alat-alat bicara. Menurut Sidharta (1984) gangguan berbahasa itu dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu:
a) Gangguan berbicara. Gangguan berbicara ini dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:
1) Gangguan mekanisme berbicara
1. Gangguan akibar faktor pulmonal.
2. Gangguan Akibat Faktor Laringal.
3. Gangguan Akibat Faktor Lingual.
4. Gangguan akibat factor resonansi
2) Gangguan berbicara psikogenik, antara lain:
1. Berbicara manja
2. Berbicara kemayu
3. Berbicara gagap
4. Berbicara latah
3) Gangguan akibat multifaktorial. Gangguan yang timbul antara lain:
1. Berbicara serampangan
2. Berbicara propulsive
3. Berbicara mutis
b) Ganguan berbahasa. Kerusakan pada daerah Broca dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut afasia. Berikut adalah jenis-jenis afasia.
1. Afasia motorik kortikal
2. Afasia motorik subkortal
3. Afasia motorik transkortikal
4. Afasia sensorik
c) Gangguan berpikir. Ganguan ekspresi verbal sebagai akibat dari gangguan pikiran dapat berupa :
1. Pikun
2. Sisofernik
3. Depresif,
2. Faktor lingkungan social
Adalah keterasingan seorang anak, secara aspek biologis seorang anak tersebut bisa berbahasa normal. Akan tetapi keterasingannya disebabkan karena diperlakukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bisa juga karena hidup bukan dalam alam lingkungan manusia, melainkan dipelihara oleh sesuatu yang lain.
Anak terasing karena tidak ada orang yang mengajak dan diajak berbicara, tidak mungkin dapat berbahasa. Karena dia sama sekali terasing dari kehidupan manusia dan sosial masyarakat. Maka, sebenarnya anak terasing yang tidak punya kontak dengan manusia bukanlah lagi manusia, sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Otaknya tidak berkembang sepenuhnya, tidak dapat berfungsi dalam masyarakat manusia, dan akhirnya menjadi tidak mampu menjadi manusia normal setelah beberapa tahun.
Anak terasing karena tidak ada orang yang mengajak dan diajak berbicara, tidak mungkin dapat berbahasa. Karena dia sama sekali terasing dari kehidupan manusia dan sosial masyarakat. Maka, sebenarnya anak terasing yang tidak punya kontak dengan manusia bukanlah lagi manusia, sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Otaknya tidak berkembang sepenuhnya, tidak dapat berfungsi dalam masyarakat manusia, dan akhirnya menjadi tidak mampu menjadi manusia normal setelah beberapa tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Arifudin. 2009. Neuro Psikolinguistik. 2010. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Halaman 275-293.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Halaman 148-165.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking