PERAN GURU DALAM MEMAHAMI SISWA SEBAGAI DASAR PEMBELAJARAN DAN PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN RANCANGAN PEMBELAJARAN
Peran Guru dalam Memahami Siswa
sebagai Dasar Pembelajaran
A. Definisi dan Makna Perkembangan
Perkembangan
sering dibedakan dari pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya lebih merujuk kepada
perubahan aspek fisik (biologis) seperti, perubahan kelenjar, tinggi dan berat
badan, dan kekuatan otot. Perkembangan merujuk kepada perubaban yang sistematis
yang terjadi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kata sistematis dalam
pengertian perkembangan mengandung implikasi bahwa perubahan yang bersifat
perkembangan adalah perubahan yang beraturan atau terpola mengikuti tahap atau
Sekuensi tertentu. Perkembangan adalah proses yang kompleks karena perkembangan
merupakan hasil dari berbagai proses biologis, kognitif, sosial, moral.
Dalam
pandangan lama, para ahli membagi konsentrasi studi tentang perkembangan anak
ke dalam : (1) pertumbuhan dan perkembangan fisik yang mencakup perubahan
badaniah dan keterampilan motorik, (2) perkembangan aspek kognitif yang
mencakup persepsi, bahasa, belajar dan berpikir; (3) perkembangan psikososial
yang mencakup perkembangan emosi, kepribadian, dan hubungan antar pribadi.
Dalam
pandangan mutakhir pembagian konsentrasi itu tidak tepat dan artifisial
(dibuat-buat) karena bagaimanapun juga perkembangan dalam aspek yang satu akan
mempengaruhi aspek lainnya. Pandangan mutakhir ini disebut pandangan holistis
yang melihat manusia sebagai makhluk biologis, kognitif sosial, dan makhluk
Tuhan di mana perubahan dalam satu aspek akan bergantung kepada dan
mempengaruhi perubahan/perkembangan aspek lain. Perspektif holistis merupakan
keterpaduan pandangan tentang proses perkembangan yang menekankan pentingnya
interaksi antara perkembangan fisik, mental, sosial, emosi, dan moral.
Perkembangan
dapat dilihat tidak hanya sebagai hasil interaksi proses biologis, kognitif,
dan sosial melainkan juga sebagai hasil interaksi kematangan dan pengalaman.
Kematangan merujuk kepada perubahan yang terjadi sebagai hasil pertumbuhan
fisik atau perubahan biologis daripada sebagai hasil pengalaman. Kemampuan
untuk belajar berjalan, berbicara dan buang air merupakan perkembangan karena
hasil kematangan. Perilaku yang dihasilkan karena kematangan disebut perilaku
pilogenetik.
B. Aspek-Aspek Perkembangan Anak
Sekolah Dasar
1. Perkembangan Motorik dan
Persepsi
Pertumbuhan fisik paling pesat
terjadi pada masa prasekolah yang terutama tampak dalam perubahan ukuran,
tinggi, berat, dan gerak-gerak motorik kasar. Sedangkan gerak/keterampilan
motorik halus tumbuh pesat pada usia sekolah dasar. Selama sekolah dasar,
tinggi dan berat badan terus bertambah, kelenjar lemak lebih cepat tumbuh
daripada kelenjar otot dan ini bcrlangsung terus pada masa adolesen. Anak
wanita cenderung memiliki berat badan lebih daripada pria. Dalam kaitan
perkembangan tubuh ini ada anak yang dapat digolongkan ke dalam endomorfik (gemuk karena kelenjar lemaknya kuat), mesomorfik (atletis karena kelenjar ototnya
kuat), dan ektomorfik (kurus).
Pada
masa sekolah dasar perkembangan motorik anak menjadi lebih terkoordinasi dari
pada masa ini anak menjadi lebih siap mempelajari berbagai keterampilan
olahraga dan keterampilan lainnya. Dalam keterampilan motorik kasar anak
laki-laki biasanya lebih unggul daripada anak wanita, sebaliknya dalam
keterampilan motorik halus anak wanita biasanya lebih unggul dan laki-laki.
2. Implikasi bagi Proses
Pembelajaran
Ada
beberapa implikasi dan perkembangan motorik dan persepsi anak terhadap proses
pembelajaran.
1.
Perkembangan motorik, terutama pada
tahap awal, terkait erat dengan perkembangan pengenalan anak terhadap dunianya.
Implikasi bagi pembelajaran ialah bahwa bahan ajar dan proses pernbelajaran di
sekolah dasar harus terpadu dengan seluruh aspek perkembangan anak.
2.
Faktor pertumbuhan otak di mana kedua
belahan otak (kiri dan kanan) perlu dikembangkan dalam proses pendidikan.
Proses belajar di sekolah dasar tidak hanya terfokus pada pengembangan
kemampuan memori, logis, dan berpikir detail, tetapi juga menyangkut
pengembangan ekspresi dan berpikir kreatif.
3.
Faktor kemampuan konsentrasi dan daya
selektivitas anak terhadap objek pengamatan membawa implikasi kepada
perancangan dan pengorganisasian bahan belajar, dan penyelenggaraan kegiatan
belajar mengajar.
C. Perkembangan Kognitif dan
Kesiapan Belajar
Kata
kunci kognitif adalah skema. Skema merujuk kepada berbagai hal: kebiasaan
respons, konsep, dan pemrosesan informasi secara aktif. Skema dapat
dikiasifikasikan ke dalam : skema sensomotorik merujuk kepada keterampilan
skema kognitif merujuk kepada konsep, imajinasi, dan bicara, dan skema verbal
merujuk kepada pemaknaan kata dan kecakapan berkornunikasi.
Perkembangan
kognitif adalah perubahan struktur skema. Jadi, skema itu pada dasarnya adalah
kemampuan atau kecakapan seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan.
Jikaka struktur skema itu cukup untuk merespons lingkungan maka individu berada
dan mencapai apa yang disebut dengan kondisi ekuilibrium (seimbang, antara
kecakapan dengan tuntutan lingkungan). Namun, jika struktur skema tidak
seimbang dengan tuntutan lingkungan, individu akan berada dalam kondisi
disekuilibrium (tidak seimbang). Kondisi tak seimbang ini akan mendorong
individu untuk mencari informasi sampai terjadi adaptasi. Kondisi tak seimbang
ini merupakan kekuatan internal manusia yang mendorong dirinya untuk mencari
stabilitas, dan kebermaknaan pengalaman. Piaget mendeskripsikan perkembangan
kognitif ke dalam empat periode perkembangan.
1. Periode Sensomotorik (0-1½
tahun)
Sampai
kira-kira usia delapan belas bulan, perkembangan skema lebih terpusat kepada
sensomotorik. Bayi mengembangkan dan mengkoordinasikan sejumlah besar agar
keterampilan perilaku, namun perkembangan skema verbal dan kognitif masih
sangat miskin dan tidak terkoordinasikan. Pembentukan konsep pada periode ini
terbatas kepada objek permanen, yaitu objek yang tampak dalam batas pengamatan
anak. Perilaku reflektif secara berangsur-angsur bergerak ke arah kegiatan yang
bertujuan.
2. Periode Operasi Awal (1½-7
tahun)
Dalam
usia delapan belas bulan hingga kira-kira tujuh tahun, anak menginternalisasi
skema sensomotorik ke dalam bentuk skema kognitif (imajinasi dan pikiran).
Seorang anak yang dihadapkan kepada teka-teki, gambar atau penyusunan balok,
akan memulai kegiatan dengan mengingat kembali pengalaman sebelumnya dalam
situasi yang sama. Oleh karena itu, belajar menjadi sesuatu yang bersifat
akumulatif dan tidak bergantung kepada kehadiran objek dan pengalaman
konkret. Kondisi ini membuat anak lebih berpikir sisternatis karena dia
mengaitkan faktor-faktor yang ada pada situasi saat ini dengan skema sebelumnya
yang ada dalam ingatannya.
3. Periode Operasi Konkret (7-12
tahun)
Perkembangan
skema pada periode ini lebih berupa skema kognitif, terutama yang berkaitan
dengan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah. Struktur skema yang
berkembang pada periode ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Good dan
Brophy, 1990).
1.
Keterampilan klasifikasi, yaitu kemampuan
mengklasifikasikan objek tanpa bergantung kepada kehadiran objek. Klasifikasi
didasarkan atas kesamaan fungsi, misalnya kursi dan meja digolongkan ke dalam
kelompok furnitur, sedangkan mobil dan kereta api digolongkan ke dalam alat
transportasi.
2.
Konsep Konservasi, yaitu kemampuan untuk
berpikir bahwa keadaan sesuatu itu tidak berubah. Anak pada periode
perkembangan ini dapat memahami panjang tali tidak berubah jika tali itu dibuat
melingkar. Jumlah benda itu tidak berubah jika diletakkan berdekatan ataupun
berjauhan. Volume suatu zat cair tidak berubah jika dipindahkan dan tabung yang
satu ke tabung yang lain.
3.
Kemampuan mengurutkan, yaitu kemampuan
menempatkan objek dalam urutan dan terkecil ke terbesar, dari terpendek ke
terpanjang dan sejenisnya.
4.
Kemampuan negation, yaitu kemampuan untuk
mengenal bahwa suatu tindakan itu dapat dikembalikan kepada keadaan asal. Identitas, yaitu kemampuan mengenal bahwa objek yang
bersifat fisik akan mengambil volume atau jumlah tertentu.
5.
Kompensasi, yaitu kemampuan mengenal bahwa
perubahan pada suatu dimensi akan dikompensasi oleh perubahan pada dimensi
lain. Anak periode operasional akan berpikir bahwa ember itu akan memuat air
lebih banyak daripada satu gelas, tetapi air di ember itu akan ada beberapa
gelas.
4. Periode Operasi Formal (12
tahun ke atas)
Ciri
utama periode operasi formal ialah perkembangan kecakapan berpikir simbolis dan
pemahaman isi secara bermakna tanpa bergantung kepada keberadaan objek fisik,
atau bahkan kepada imajinasi masa lain akan objek sejenis. Anak yang berada
pada periode operasi formal mampu berpikir logis dan matematis, abstrak, dan
bahkan mampu memahami hal-hal yang secara teoritis mungkin terjadi tetapi belum
pernah terjadi dalam kenyataan.
5. Kesiapan Belajar dan Implikasi
bagi Pembelajaran
Teori
Piaget (Thomas L. Good dan Jere E. Brophy, 1990: 51-52) mengangkat konsep
kesiapan dalam arti kognitif. Pigget memandang bahwa pikiran anak merupakan
suatu struktur yang secara terus-menerus berkembang ke arah tingkat organisasi
dan integrasi yang lebih tinggi. Konsep kesiapan ini menjadi luas, tidak hanya
mencakup aspek fisik, tetapi tiga mencakup aspek kognitif dan minat. Kesiapan
belajar atau kognitif anak dapat diciptakan atau dikembangkan dengan jalan
menghadapkan anak kepada tugas-tugas satu tingkat paling dekat dengan tahap
perkembangan pada saat ini.
D. Perkembangan Pribadi dan Sosial
Perkembangan
pribadi mencakup perkembangan konsep diri, emosi, independensi dan tanggung
jawab. Dalam aspek konsep diri, siswa mungkin masih cenderung berorientasi pada
diri sendiri. Keinginan untuk menonjolkan diri masih cukup tinggi, belum mampu
melibat diri secara objeltif dan menyadari akan perbedaan diri dengan orang
lain mungkin masih rnerupakan ciri-ciri yang cukup kuat pada anak. Namun
sejalan dengan tingkat perkembangannya, pada kelas-kelas tinggi konsep diri
anak sekolah dasar diharapkan telah berorientasi kontekstual, yakni menunjukkan
kesadaran akan hubungan diri dengan lingkungan dan bahwa lingkungan atau orang
lain itu berbeda dengan dirinya.
Dalam
aspek perkembangan emosi, anak sekolah dasar cenderung belum stabil.
Kecenderungan untuk tidak toleran terhadap orang lain, agresif secara fisik,
rendahnya kesadaran akan kesalahan diri, dan perilaku egoistis masih akan
tampak pada anak sekolah dasar. Karakteristik perkembangan ini akan berubah
menuju perilaku memahami orang lain, bersikap kooperatif, toleran, dan sadar
akan kesalahan diri. Dengan kata lain akan ada pergeseran dan orientasi
egoistis kepada orientasi altruistis (peduli akan kepentingan orang lain).
Erat
kaitannya dengan konsep diri dan emosi ialah perkembangan tanggung jawab.
Keraguan berbuat atas inisiatif sendiri atau mengambil keputusan tanpa
menyadari resiko mungkin masih rnerupakan ciri dari perkembangan anak sekolah
dasar. Kesadaran akan tanggung jawab pada anak sekolah dasar tampak antara lain
pada hasrat untuk menentukan kegiatan sendiri, mcngambil inisiatif kesediaan
bekerja sama, keberanian mengambil resiko, dan sikap tidak bergantung kepada
guru.
E. Pendekatan Perkembangan dalam
Pembelajaran di Sekolah Dasar
Proses pembelajaran di sekolah dasar
harus bersifat terpadu dengan perkembangan anak baik perkembangan fisik,
kognitif, sosial, moral, maupun emosional. Dengan kata lain pengembangan bahan
ajar dan proses pembelajaran di sekolah dasar harus bertolak dari prinsip
ketercernaan bagi peserta didik. Pendekatan Developmentally Appropriate Practice(DAP) merupakan
altennatif pembelajaran di sekolah dasar, yang menekankan prinsip ketercernaan,
yang secara sistematis tugas ajar dan bahan ajar dirancang dan dilaksanakan
sejalan dengan karakteristik perkembangan siswa terutama di kelas-kelas awal.
1. Hakikat Pendekatan Perkembangan
Pendekatan
perkembangan di dalam pembelajaran menekankan kepada kepadanan kurikulum dan
proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Pendekatan ini
memandang :
1.
anak sebagai subjek yang memiliki
kecakapan mental yang berkembang terus,
2.
belajar sebagai proses kreatif,
3.
pengetahuan sebagai hasil belajar adalah
suatu konstruksi yang terbentuk atas kotribusi bersama antara subjek dan objek;
dan
4.
mengajar adalah menciptakan lingkungan
belajar yang padan dengan perkembangan anak.
Konsep
pendekatan perkembangan mengandung dua dimensi yaitu umur dan individual. Dimensi umur. Penelitian perkembangan manusia
menunjukkan bahwa ada sekuensi dan perubahan yang universal dan dapat
diramalkan yang terjadi pada usia anak, terutama usia 9 tahun pertama.
Perubahan tersebut menyangkut aspek fisik, kognitif, sosial dan emosional. Dimensi individual.
Anak adalah pribadi yang unik baik dan aspek pola dan waktu perkembangan
kepribadian gaya belajar, maupun latar belakang keluarga. Kurikulum dan
interaksi orang dewasa dengan anak harus responsif terhadap keragaman
individual. Belajar pada anak merupakan hasil interaksi antara pikiran dan
pengalaman anak dengan bahan, gagasan, dan manusia lain. Pengalaman ini mesti
padan dengan perkembangan minat, dan pemahaman anak. Pengetahuan tentang
perkembangan anak diperlukan oleh guru untuk mengidentifikasi rentang perilaku,
kegiatan, dan bahan ajar yang padan bagi kelompok usia tertentu.
2. Perkembangan dan Belajar Anak
Usia Sekolah Dasar
a)
Keterpaduan perkembangan dan belajar
Keterpaduan
perkembangan dan belajar adalah hal penting untuk memahami perkembangan anak
usia sekolah dasar sebagai landasan bagi pengembangan proses pembelajaran yang
padan dengan perkembangan anak. Satu premis yang paling penting tentang
perkembangan manusia ialah bahwa semua aspek perkembangan, fisik, emosional, sosial,
dan kognitif, bersifat terpadu. Perkembangan dalam aspek yang satu akan
mempengaruhi dan dipengaruhi aspek lain. Prinsip yang relevan
dengan pembelajaran ialah bahwa kurikulum dan proses pembelajaran di sekolah
dasar harus bersifat terpadu.
b)
Perkembangan fisik
Pada
usia sekolah dasar, perkembangan fisik anak cenderung lambat jika dibanding
dengan pertumbuhan yang luar biasa pada lima tahun pertama. Kemampuan anak
mengendalikan badan dan kemampuan duduk serta berada pada periode waktu yang
lebih lama merupkan ciri perkembangan fisik anak usia sekolah dasar. Kegiatan
fisik bagi anak usia sekolah dasar adalah hal yang esensial yang dapat
memperhalus perkembangan keterampilan dan harga dirinya.
c)
Perkembangan kognitif
Pola
belajar anak usia sekolah dasar dipengaruhi kuat oleh pergeseran gradual dan
tahap berpikir operasional awal ke operasional konkret. Pada usia ini anak
mulai memiliki kecakapan berpikir tentang masalah dan pemecahannya kerap pada
usia ini mereka mampu memanipulasi objek secara simbolis. Kurikulum dan proses
pembelajaran harus relevan, dan bermakna bagi anak.
d)
Perkembangan sosial-emosional dan moral
Guru
harus mengetahui pentingnya pengembangan hubungan kelompok yang positif dan
mengembangkan kesempatan dan dukungan bagi kerja sama kelompok yang tidak
sekedar mengembangkan ranah kognitif, tetapi juga meningkatkan interaksi sebaya
anak. Sebagai konsekuensi logis, guru sebaiknya membantu anak mempelajari
perilaku yang layak daripada menghukum atau mengkritiknya.
3. Perkembangan Individual dalam
Pendekatan Perkembangan
Prinsip
utama dan pendekatan perkembangan ialah, bahwa anak itu unik, memiliki pola dan
irama perkembangan, kepribadian gaya belajar, dan latar belakang keluarga
tersendiri. Proses pembelajaran yang berorientasi pendekatan perkembangan
bersifat fleksibel dalam hal kapan dan bagaimana anak memperoleh kompetensi
tertentu. Mengenali keragaman individual mengisyaratkan perlunya variasi metode
pembelajaran. Prinsip praktis yang relevan ialah bahwa anak usia sekolah dasar
dan keragaman latar belakangnya, memperluas keragaman metode pengajaran dan
bahan ajar.
Fleksibilitas
pendekatan perkembangan terletak pula dalam bagaimana pengelompokan siswa
dilakukan. Prinsip ini memungkinkan terjadinya penggabungan tingkat ke dalam
kelas yang sama (multigrade/level) yang dalam keseharian di sekolah kita sering
terjadi di sekolah-sekolah yang kekurangan guru.
4. Panduan bagi Implementasi
Pendekatan Perkembangan
a.
Pengembangan bahan ajar
Bahan
ajar yang berorientasi pendekatan perkembangan dirancang padan dengan rentang
usia di dalam kelompok dan diimplementasikan dengan memperhatikan keragaman
kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan individual anak. Bahan ajar yang
berorientasi pendekatan perkembangan dirancang untuk mengembangkan seluruh
ranah perkembangan anak: fisik, sosial, emosi dan kognitif melalui pendekatan
terpadu. Murid belajar tidak dalam mata pelajaran yang sempit melainkan dalam
keterpaduan.
1)
Pengembangan bahan ajar didasarkan atas pengamatan dan
catatan guru atas minat dan kemajuan perkembangan setia anak. Bahan ajar yang
realistis didasarkan atas hasil asesmen kebutuhan, kekuatan dan minat
indivadual siswa yang dikemas ke dalam kepadanan kelompok usia
2)
Pengenibangan bahan ajar menekankan kepada belajar
sebagai proses interaktif. Guru menyiapkan lingkungan bagi anak untuk belajar
melalui eksplorasi dan interaksi dengan orang dewasa, orang lain, dan bahan
ajar: Hasil akhir atau pemecahan yang “benar” menurut patokan. orang dewasa
bukanlah patokan mutlak untuk menimbang proses belajar yang terjadi pada anak.
3)
Kegiatan belajar dan bahan ajar harus konkret, riil,
dan relevan dengan kehidupan anak. Anak memiliki kebutuhan bermain yang panjang
dengan objek dan peristiwa nyata sebelum dia mampu memahami makna. simbol,
seperti huruf dan angka.
4)
Bahan ajar yang disiapkan harus mengakomodasikan
rentang perkembangan kecakapan dan minat, bukan semata-mata berdasarkan rentang
usia kronologis dalam kelompok.
5)
Bahan ajar dan kegiatan belajar dikembangkan secara bervariasi,
guru meningkatkan tingkat kesulitan, kompleksitas, kebaruan, dan tantangan dan
suatu kegiatan yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa di dalamnya.
6)
Bahan ajar dikembangkan dengan memperhatikan konteks
budaya anak.
b.
Interaksi guru-siswa
Ciri
pendekatan perkembangan paling tampak dalam interaksi antara orang dewasa (di
sekolah adalah guru) dan anak. interaksi dalam pendekatan perkembangan
didasarkan atas pengetahuan orang dewasa dan harapan akan perilaku anak usia
sekolah dasar, diimbangi dengan kesadaran orang dewasa akan keragaman di antara
anak. Pola dasar intéraksi yang dimaksud akan berwujud dalam bentuk-bentuk
berikut ini.
1)
Guru secara cepat dan langsung merespons kebutuhan,
keinginan, dan pesan, dan menyesuaikan responsnya dengan keragaman gaya dan
kecàkapan individual. Respons diberikan dalam suasana hangat dan menumbuhkan
kesan akan pemahaman dewasa terhadap anak.
2)
Guru mengembangkan berbagai kesempatan bagi anak untuk
berkomunikasi. Anak memperoleh keterampilan berkomunikasi melalui mendengar dan
penggunaan bahasa, tumbuh dan kehendak rnenggunakan bahasa untuk
mengekspresikan kebutuhan, wawasan, kebanggaan, dan pemecahan masalah, anak
tidak belajar bahasa dengan cara mendengarkan ceramah guru.
3)
Guru memberikan kemudahan bagi pencapaian tugas
perkembangan melalui pemberian dukungan, pemberian perhatian, sentuhan fisik,
dan dorongan-dorongan verbal berupa pujian dan sanjungan.
4)
Guru memahami sumber-sumber stres yang terjadi pada
siswa dan secara sadar berupaya mengembangkan kegiatan dan teknik untuk
mengurangi stres tersebut. Respons anak terhadap stres bersifat individual dan
sejalan dengan gaya belajamya. Pemahaman dan kepekaan guru terhadap reaksi
individual siswa merupakan kunci untuk perbaikan iklim interaksi yang lebih
menyenangkan bagi anak.
5)
Guru mengembangkan kemudahan bagi perkembangan harga
diri anak dengan cara menghargai dan nenerima anak. Bimbingan yang berlangsung
dalam pendekatan perkembangan didasar oleh sikap menghargai anak, dan
dimaksudkan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan rnengendalikan din dan
mengambil keputusan untuk masa yang akan datang.
c.
Hubungan antara keluarga dan program
Agar
program pembelajaran dapat mernenuhi kepadanan individual mutlak diperlukan
hubungan kemitraan antara sekolah dan keluarga. Orang tua memiliki hak dan
tanggung jawab di dalam mengambil keputuan tentang perawatan dan penididikan
anaknya. Orang tua harus didorong untuk mengamati dan partisipasi dalam
penyelenggaraan pembelajaran anaknya, guru bertanggung jawab untuk mengembangkan
dan mernelihara komunikasi dengan keluarga. Secara reguler guru dan orang tua
perlu berbagi pengetahuan dan wawasan tentang anak.
d.
Evaluasi berorientasi perkembangan
Evaluasi
perkembangan dan belajar anak secara individual adalah hal esensial bagi perencanaan
dan implementasi program pendekatan perkembangan, tetapi harus dilakukan secara
hati-hati untuk menghindari terjadinya diskrirninasi dan menjamin ketepatan
evaluasi. Ketepatan testing dicapai jika instrumen yang digunakan valid dan
reliabel, akan tetapi instrumen semacam ini jarang dikembangkan bagi keperluan
evaluasi terhadap anak usia sekolah dasar. Oleh karens itu, evaluasi melalui
pengukuran objektif (menggunakan tes) bukan cara mutlak yang dapat menentukan
segalanya tentang perkembangan anak. Asesmen terhadap anak usia sekolah dasar
perlu juga didasarkan atas hasil pengamatan terhadap perkenbangannya yang
dinyatakan dalam data deskriptif.
Peran Guru Dalam Pengembangan
Rancangan Pembelajaran
A. Hakikat Proses Pembelajaran
Proses
pembelajaran sebagai proses implementasi kurikulum, menuntut peran guru untuk
mengartikulasikan kurikulum/bahan ajar serta mengembangkan dan
mengimplementasikan program-Program pembelajaran dalam suatu tindakan yang
akurat dan adekuat. Peran ini hanya mungkin dilakukan jika guru memahami betul
tujuan dan isi kurikulurm serta segala perangkatnya untuk mewujudkan proses
pembelajaran yang optimal.
1. Pembelajaran sebagai Inkuiri
Refleks
Sebagai
proses inkuiri refloktif pembelajaran mengandung makna sebagai proses sintesis
dan analisis. Inkuiri di dalam pembelajaran mengandung makna mempertanyakan,
menjelajahi lebih jauh, dan memperluas pemahaman lentang situasi. Sedangkan
refleksi mengimplikasikan adanya dugaan, penilaian, dan pertirnbangan
faktor-faktor yang signifikan terhadap pencapaian tujuan. Dengan. kata lain
proses pembelajaran sebagai inkuiri refleksi sangat menekankan unsur aktivitas
dan dinamika proses yang harus dipahami dan dihayati guru. Proses pembelajaran
tidak sekedar menjadi wahana belajar bagi peserta didik tetapi juga wahana
belajar bagi guru. Di dalain proses pembelajaran terjadi proses menjawab
pertanyaan, mempertasiyakan jawaban, dan menipertanyakan pertanyaan. Jelasnya
proses peinbelajaran adalah proses yang dinamis, proses yang berkembang terus,
dan di dalam proses itu akan tejadi proses belajar. Dalam proses pembelajaran
terkandung proses mengajar dan belajar, sebagai dua proses yang saling
bergantung; mengajar hanya akan ada jika terjadi proses. Proses pembelajaran
sebagai inkuiri reflektif akan menempatkan guru sebagai:
a)
individu yang sec.ara terus-menerus
aktif belajar, Anda juga berperan sebagai siswa;
b)
seorang guru yang menantang siswanya
untuk menjadi pelajar yang reflektif
c)
seorang profesional yang secara
terus-menerus merefleksikan keefektifannya sebagai guru; serta
d)
seorang profesional yang selalu
meningkatkan kemampuan profesionalnya.
2. Perkembangan sebagai Tujuan
Pembelajaran
Bukan hal mustahil bahwa pembelajaran
yang ekselen (unggul) dikerjakan oleh guru-guru
artistik yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang tujuan tetapi mereka
secara intuitif memiliki pemahaman tentang apa proses pembelajaran yang baik,
materi. sajian apa yang ;ianggap penting/betinakna, topik apa yang relevan
dongan pengembangan peserta didik, bagaimana menyajikan bahan secara efektif,
serta lagaimana menilai keberhasilan siswa. Akan tetapi, jika suatu program
pendidikan atau pembelajaran dirancang dan diupayakan untuk dilakukan perbaikan
secara berkesinambungan, bagaimanapun juga pemahaman akan konsep-konsep tujuan
yang hendak dicapai adalah suatu keharusan bagi guru. Tujuan pembelajaran
menjadi tolak ukur untuk memilih baban ajar. Merancang isi pembelajaran,
mengembangkan prosedur pembelajaran, dan mempersiapkan tes dan ujian. Semua
aspek program pembelajaran secara nyata merupakan instrumen untuk mencapai
tujuan. Artinya jika mentaati program pembelajaran secara sistematis dan
cermat, maka pertama-tama yang harus diyakini adalah tujuan yang hendak
dicapai. Dalam kaitan dengan perkembangan peserta didik, proses pembelajaran
memiliki fungsi:
a)
pengembangan, yakni membantu peserta
didik mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan keunikannya;
b)
peragaman, yaitu membantu peserta didik
memilih arah perkembangan yang tepat sesuai dengan potensi dan peluang yang
diperolehnva;
c)
integrasi, yaitu membawa keragaman
perkembangan ke arah dan tujuan yang sesuai dengan eksistensi kehidupan
manusia.
B. Prosedur Pengembangan Rancangan
Pembelajaran
1. Analisis Kurikulum
Di
dalam praktek seorang guru dituntut untuk mengartikulasikan kurikulum ke dalam
ragam dan rentang pengalaman belajar peserta didik. Artikulasi dan implementasi
kurikulum yang ideal tadi akan sangat bersifat kontekstual dan bergantung kepada
kondisi objektif guru maupun peserta didik. Oleh karena itu, sangat mungkin apa
yang dilaksanakan dalam praktek tidak sepenuhnya mewujudkan hal-hal ideal yang
terkandung dalam kurikulum tersebut. Dengan kata lain kurikulurn yang
terlaksana (implemented curriculum) tidak selalu identik dengan kurikulum
ideal. Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan analisis
kurikulun yaitu sebagai berikut :
1)
Total waktu yang Anda miliki untuk
menangani topik-topik utama yang harus diajarkan.
2)
Asumsi-asumsi yang Anda gunakan tentang
pengetahuan dan keterampilan awal peserta didik untuk menilai mempelajari
topik-topik baru.
3)
Tujuan umum belajar yang dirumuskan
untuk siswa.
2. Tujuan Pembelajaran
Ada
empat tipe tujuan pembelajaran. Pertama,
tujuan keperilakuan, rumusan lujuan yang ada dalam bentuk perilaku siswa yang
dapat diobservasi, diukur, dan diuji bahwa siswa sudah menguasai dengan baik
perilaku yang harus dicapai secara khusus. Kedua,
tujuan pemecahan masalah, merumuskan pembelajaran siswa dalam proses untuk
menggunakan pikiran melalui pengkajian isu yang tak memiliki pemecahan
spesifik. Ketiga, tujuan ekspresif,
merumuskan pembelajaran siswa ke dalam tingkat pengalaman tinggi yang bermakna
secara individual apakah sebelumnya sudah diantisipasi atau belum. Keempat, tujuan afektif, ada kesamaan
dengan tujuan ekspresif, hanya tujuan afektif lebih terfokus kepada
respons-respons emosional terhadap kurikulum dan pengalaran. Dalam tatanan
paling rendah perilaku afektif direplikasikan dalam bentuk memperhatikan dan
merespons.
3. Rancangan Kegiatan
Pembelajaran
Secara
operasional kegiatan pembelajaran yang tertuang di dalam satuan pelajaran
diartikan sebagai sejumlah waktu yang dirancang untuk mengajari siswa suatu
topik sederhana, bisa berupa konsep, keterampilan, proses, diskusi singkat
tentang cerita pendek, atau suatu bagian dan novel. Kata sederhana mengandung
arti bahwa setiap satuan pelajaran adalah hanya satu dan rangkaian
satuan-satuan pelajaran yang saling terkait dan bekerja sama membantu siswa
memahami hal-hal yang lebib kompleks. Setiap kegiatan pembelajaran dapat dibagi
ke dalam tiga bagian, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup.
a. Kegiatan
awal
Pada saat Anda memperkenailkan topik
baru kepada siswa, perlu diingat bahwa siswa harus dibantu memahami topik itu
dalam konteks keseluruhan pengajaran. Bagian pengantar dan satuan pelajaran
dapat membantu siswa dalam hal-hal berikut.
1) Mengaitkan
hal-hal yang sudab dipelajari dengan hal-hal baru. Pengantar satuan pengajaran
dapat diisi dengan mengingatkan kembali pengetahuan awal dan mengaitkannya
dengan informasi baru sehingga pengetahuan awal itu dapat menjadi alat yang
bermakna bagi proses belajarbaru.
2) Memberi
kesempatan path siswa untuk memahami topik secara keseluruhan sebelum mempelajari
hal-hal yang terkandung dalam topik secara detail. Pemahaman ini dikembangkan
melalui penyiapan penata awal (advance organizer), yaitu suatu cakupan rumusan
yang memungkinkan siswa mengetahui informasi apa yang penting sebelum
pembelajaran dimulai.
3) Menumbuhkan
hasrat ingin tahu siswa dan merangsang perhatian dan hasrat belajar siswa
secara berkelanjutan.
4) Menyadarkan
siswa akan apa yang diharapkan guru dan siswa dalam atau selama pembahasan
topik tersebut, di samping menyampaikan tujuan pembelajran.
b. Rancangan
untuk kegiatan intipembelajaran
Banyak ragam konsep dan pemikiran
tentang bagaimana proses dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Ada yang
melihat sebagai suatu “Siklus Pelajaran” yang mengorganisasikan kegiatan
mengajar ke dalam aspek-aspek rangkaian arah kegiatan guru (Hunter, :1984). Ada
yang merumuskan ke dalam langkah-langkah terstrktur misalnya Posenshine dan
Stevens (1986). Ada pula yang menekankan kepada model (Joyce dan Weil, 1986)
yang tidak sependapat dengan adanya langkah-langkah sistematis dan standar di
dalam poses pembelajaran.
Ini berarti bahwa banyak ragam
rancangan yang dilaksanakan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
yang beraneka ragam pula. Walaupun demikien kegiatan pembelajaran dikehendaki
mampu menumbuhkan dan niengembangkan hal-hal berikut ini.
1) Mengantarkan
siswa kepada informasi atau keterampilan baru.
2) Mendorong
siswa untuk mengkaji ulang atau menafsirkan ulang informasi atau keterampilan
yang sudah dipelajari sebelumnya.
3) Memungkinkan
siswa mampu melihat kekurangan pada proses belajar sebelumnya dan mengisi
kekurangan itu.
4) Mendorong
siswa untuk mengembangkan atau mmperkuat prosesproses fisik, kognitif, sosial,
maupun afektif.
5) Mendorong
siswa untuk menghasilkan, mengorganisasikan dan menyatakan informasi baru itu
dalam cara-cara yang kreatif.
6) Mendorong
siswa untuk memperkirakan dan memikirkan gagasan yang belum dikembangkan serta
masalah yang belum terpecahkan.
Tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan menjadi pandahuluan bagi Anda dalam memikirkan keseluruhan proses
pembelajaran, memutuskan basil yang paling penting yang harus dicapai,
mengaitkan tujuan pembelajaran dengan tujuan kürikulum. Kegiatan pembelajaran
adalah tugas-tugas akademik yang mendorong siswa berunjuk kerja ke ahali
pencapaian tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Kegiatan adalah apa yang
dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan guru, sebab belajar bergantung kepada
apa yang ada dalam pikiran siswa. Guru dapat memberikan kuliah yang cemerlang,
melaku.kan simulasi dan demonstrasi, tetapi jika kegiatan guru itu tidak di
persepsi siswa sebagai sesuatu yang bermakna, maka sesunggubnya tidak terjadi
proses belajar.
c. Kegiatan
penutup
Pada kegiatan penutup, guru
membimbing siswa untuk merumuskan ikhtisar yang bertjuan untuk:
1) mengkaji
ulang butir-butir penting dan isi dan kegiatan pembelajaran;
2) memungkinkan
siswa merefleksikan pembelajaran dan menggambarkan kumpulan dan pengalaman
pembelajaran; serta
3) memberikan
gambaran tentang pembelajaran yang akan datang.
4. Perencanaan Evaluasi
Tujuan-tujuan
yang sudah dirumuskan baik tujuan keperilakuan pemecahan masalah, maupun tujuan
ekspresif menjadi landasan untuk mengetahui dan mengukur tingkat pencapaian
tujuan dan kemajuan siswa. Semua kegiatan evaluasi ini disebut evaluasi sumatif
yaitu evaluasi yang merangkum seluruh hasil belajar siswa pada jangka waktu
tertentu. Evaluasi lain yang perlu dirancang adalah evaluasi formatif. Evaluasi
ini maksudkan untuk melihat kemajuan siswa pada saat kegiatan pembelajaran
berlangsung. Evaluasi formatif maupun sumatif harus dirancang secara konsisten
dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
C. Rancangan Unit Pembelajaran
Dalam
kaitan dengan rancangan pembelajaran. Anda perlu rnembedakan tujuan unit dan
tujuan satuan pelajaran. Tujuan unit akan mencakup beberapa minggu kegiatan dan
satuan pelajaran sebelun siswa dapat menguasai keseluruhannya. Satuan-satuan
pelajaran akan terbangun dalam suatu kesatuan yang tertata ke dalarn suatu unit
yang kohesif.
Setelah
satuan-satuan pelajaran itu ditata, hal penting yang perlu dicek ulang ialah
konsistensi antara tujuan, kegiatan dan evaluasi. Panting juga untuk dilakukan
pengecekan konsistensi silang antarsatuan pelajaran untuk meyakinkan bahwa
satuan-satuan pelajaran yang sudah dirancang itu rnemungkinkan siswa mencapai
tujuan unit.
KESIMPULAN
Selagi pembelajaran
merupakan proses pengembangan pribadi siswa, maka perkembangan siswa harus
menjadi dasar bagi pembelajaran. Aspek-aspek perkembangan siswa yang mencakup
perkembangan fisik dan motorik, kognitif, pribadi, dan sosial mempunyai
implikasi penting bagi proses pembelajaran. Implikasi itu menyangkut
pengembangan isi dan strategi pembelajaran, dan kerjasama sekolah dengan
orangtua.
Proses pembelajaran di
sekolah dasar harus bersifat terpadu dengan perkembangan fisik kognitif,
sosial, moral, dan emosional. Pendidikan di sekolah dasar ini berorientasi
kepada isi, artinya menekan kepada penguasaan isi pengetahuan, yaiti materi
pelajaran. Pendekatan perkembangan dan pembelajaran menekankan kepada kepadanan
kurikulum dan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Konsep
pendekatan perkembangan ini ada dua dimensi yaitu dimensi umum dan dimensi
individual.
Sisi penting dari
pendekatan perkembangan ini adalah pengetahuan tentang faktor-faktor yang
secara individu padan dengan anak tertentu di dalam kelas.
Proses pembelajaran
meupakan proses inkuiri dan reflektif, yang menekankan pentingnya pengalaman
dan penghayatan guru terhadap proses itu. Inkuiri di dalam pelajaran mengandung
makna mempertanyakan, menjelajahi lebih jauh, dan memperluas pemahaman tentang
situasi. Sedangkan refleksi menginflementasikan adanya dugaan, penilaian dalam pertimbangan faktor-faktor signifikan
dalam mencapai tujuan. Rancangan pembelajaran harus dikembangkan atas dasar
tujuan-tujuan instruksional yang berorientasi kepada perkembangan siswa.
Perkembangan adalah tujuan pembelajaran. Rancangan pembelajaran baik rancangan
jangka pendek maupun jangka panjang mencakup komponen-komponen: (a). Analisis
kurikulum, yaitu kegiatan merumuskan rencana dan bahan ajar yang lebih bermakna
dan sesuai perkembangan peserta didik. (b). Tujuan pembelajaran; ada empat tipe
tujan pembelajaran yaitu tujuan perilaku, tujuan pemecahan masalah, tujuan
eksprsif dan afektif. (c). Rencana kegiatan berisi kegiatan awal, kegiatan
inti, dan kegiatan penutup. (d). Rencana evaluasi; terdiri dari kegiatan
evaluasi sumatif dan evaluasi formatif.
DAFTAR PUSTAKA
B. Uno, Hamzah. 2009. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Djamarah, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksin
Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
M. Goble, Norman. 1983. Perubahan Peranan Guru. Jakarta: PT.
Gunung Agung.
Satori Djam’an. 2010. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas
Terbuka.
boleh tanya?? kalo interaksi guru-siswa itu literaturnya dari mana ya?? soalnya saya lagi butuh referensi untuk proposal saya... terima kasih sebelumnya...
AntwoordVee uit