Wikipedia

Soekresultate

Donderdag 18 April 2013

Peran Guru



PERAN GURU DALAM MEMAHAMI SISWA SEBAGAI DASAR PEMBELAJARAN DAN PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN RANCANGAN PEMBELAJARAN

Peran Guru dalam Memahami Siswa sebagai Dasar Pembelajaran
A. Definisi dan Makna Perkembangan
Perkembangan sering dibedakan dari pertumbuhan. Pertumbuhan biasanya lebih merujuk kepada perubahan aspek fisik (biologis) seperti, perubahan kelenjar, tinggi dan berat badan, dan kekuatan otot. Perkembangan merujuk kepada perubaban yang sistematis yang terjadi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kata sistematis dalam pengertian perkembangan mengandung implikasi bahwa perubahan yang bersifat perkembangan adalah perubahan yang beraturan atau terpola mengikuti tahap atau Sekuensi tertentu. Perkembangan adalah proses yang kompleks karena perkembangan merupakan hasil dari berbagai proses biologis, kognitif, sosial, moral.
Dalam pandangan lama, para ahli membagi konsentrasi studi tentang perkembangan anak ke dalam : (1) pertumbuhan dan perkembangan fisik yang mencakup perubahan badaniah dan keterampilan motorik, (2) perkembangan aspek kognitif yang mencakup persepsi, bahasa, belajar dan berpikir; (3) perkembangan psikososial yang mencakup perkembangan emosi, kepribadian, dan hubungan antar pribadi.
Dalam pandangan mutakhir pembagian konsentrasi itu tidak tepat dan artifisial (dibuat-buat) karena bagaimanapun juga perkembangan dalam aspek yang satu akan mempengaruhi aspek lainnya. Pandangan mutakhir ini disebut pandangan holistis yang melihat manusia sebagai makhluk biologis, kognitif sosial, dan makhluk Tuhan di mana perubahan dalam satu aspek akan bergantung kepada dan mempengaruhi perubahan/perkembangan aspek lain. Perspektif holistis merupakan keterpaduan pandangan tentang proses perkembangan yang menekankan pentingnya interaksi antara perkembangan fisik, mental, sosial, emosi, dan moral.
Perkembangan dapat dilihat tidak hanya sebagai hasil interaksi proses biologis, kognitif, dan sosial melainkan juga sebagai hasil interaksi kematangan dan pengalaman. Kematangan merujuk kepada perubahan yang terjadi sebagai hasil pertumbuhan fisik atau perubahan biologis daripada sebagai hasil pengalaman. Kemampuan untuk belajar berjalan, berbicara dan buang air merupakan perkembangan karena hasil kematangan. Perilaku yang dihasilkan karena kematangan disebut perilaku pilogenetik.
B. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Sekolah Dasar
1. Perkembangan Motorik dan Persepsi
Pertumbuhan fisik paling pesat terjadi pada masa prasekolah yang terutama tampak dalam perubahan ukuran, tinggi, berat, dan gerak-gerak motorik kasar. Sedangkan gerak/keterampilan motorik halus tumbuh pesat pada usia sekolah dasar. Selama sekolah dasar, tinggi dan berat badan terus bertambah, kelenjar lemak lebih cepat tumbuh daripada kelenjar otot dan ini bcrlangsung terus pada masa adolesen. Anak wanita cenderung memiliki berat badan lebih daripada pria. Dalam kaitan perkembangan tubuh ini ada anak yang dapat digolongkan ke dalam endomorfik (gemuk karena kelenjar lemaknya kuat), mesomorfik (atletis karena kelenjar ototnya kuat), dan ektomorfik (kurus).
Pada masa sekolah dasar perkembangan motorik anak menjadi lebih terkoordinasi dari pada masa ini anak menjadi lebih siap mempelajari berbagai keterampilan olahraga dan keterampilan lainnya. Dalam keterampilan motorik kasar anak laki-laki biasanya lebih unggul daripada anak wanita, sebaliknya dalam keterampilan motorik halus anak wanita biasanya lebih unggul dan laki-laki.
2. Implikasi bagi Proses Pembelajaran
Ada beberapa implikasi dan perkembangan motorik dan persepsi anak terhadap proses pembelajaran.
1.      Perkembangan motorik, terutama pada tahap awal, terkait erat dengan perkembangan pengenalan anak terhadap dunianya. Implikasi bagi pembelajaran ialah bahwa bahan ajar dan proses pernbelajaran di sekolah dasar harus terpadu dengan seluruh aspek perkembangan anak.
2.      Faktor pertumbuhan otak di mana kedua belahan otak (kiri dan kanan) perlu dikembangkan dalam proses pendidikan. Proses belajar di sekolah dasar tidak hanya terfokus pada pengembangan kemampuan memori, logis, dan berpikir detail, tetapi juga menyangkut pengembangan ekspresi dan berpikir kreatif.
3.      Faktor kemampuan konsentrasi dan daya selektivitas anak terhadap objek pengamatan membawa implikasi kepada perancangan dan pengorganisasian bahan belajar, dan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

C. Perkembangan Kognitif dan Kesiapan Belajar
Kata kunci kognitif adalah skema. Skema merujuk kepada berbagai hal: kebiasaan respons, konsep, dan pemrosesan informasi secara aktif. Skema dapat dikiasifikasikan ke dalam : skema sensomotorik merujuk kepada keterampilan skema kognitif merujuk kepada konsep, imajinasi, dan bicara, dan skema verbal merujuk kepada pemaknaan kata dan kecakapan berkornunikasi.
Perkembangan kognitif adalah perubahan struktur skema. Jadi, skema itu pada dasarnya adalah kemampuan atau kecakapan seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Jikaka struktur skema itu cukup untuk merespons lingkungan maka individu berada dan mencapai apa yang disebut dengan kondisi ekuilibrium (seimbang, antara kecakapan dengan tuntutan lingkungan). Namun, jika struktur skema tidak seimbang dengan tuntutan lingkungan, individu akan berada dalam kondisi disekuilibrium (tidak seimbang). Kondisi tak seimbang ini akan mendorong individu untuk mencari informasi sampai terjadi adaptasi. Kondisi tak seimbang ini merupakan kekuatan internal manusia yang mendorong dirinya untuk mencari stabilitas, dan kebermaknaan pengalaman. Piaget mendeskripsikan perkembangan kognitif ke dalam empat periode perkembangan.
1. Periode Sensomotorik (0-1½ tahun)
Sampai kira-kira usia delapan belas bulan, perkembangan skema lebih terpusat kepada sensomotorik. Bayi mengembangkan dan mengkoordinasikan sejumlah besar agar keterampilan perilaku, namun perkembangan skema verbal dan kognitif masih sangat miskin dan tidak terkoordinasikan. Pembentukan konsep pada periode ini terbatas kepada objek permanen, yaitu objek yang tampak dalam batas pengamatan anak. Perilaku reflektif secara berangsur-angsur bergerak ke arah kegiatan yang bertujuan.
2. Periode Operasi Awal (1½-7 tahun)
Dalam usia delapan belas bulan hingga kira-kira tujuh tahun, anak menginternalisasi skema sensomotorik ke dalam bentuk skema kognitif (imajinasi dan pikiran). Seorang anak yang dihadapkan kepada teka-teki, gambar atau penyusunan balok, akan memulai kegiatan dengan mengingat kembali pengalaman sebelumnya dalam situasi yang sama. Oleh karena itu, belajar menjadi sesuatu yang bersifat akumulatif dan  tidak bergantung kepada kehadiran objek dan pengalaman konkret. Kondisi ini membuat anak lebih berpikir sisternatis karena dia mengaitkan faktor-faktor yang ada pada situasi saat ini dengan skema sebelumnya yang ada dalam ingatannya.
3. Periode Operasi Konkret (7-12 tahun)
Perkembangan skema pada periode ini lebih berupa skema kognitif, terutama yang berkaitan dengan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah. Struktur skema yang berkembang pada periode ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Good dan Brophy, 1990).
1.      Keterampilan klasifikasi, yaitu kemampuan mengklasifikasikan objek tanpa bergantung kepada kehadiran objek. Klasifikasi didasarkan atas kesamaan fungsi, misalnya kursi dan meja digolongkan ke dalam kelompok furnitur, sedangkan mobil dan kereta api digolongkan ke dalam alat transportasi.
2.      Konsep Konservasi, yaitu kemampuan untuk berpikir bahwa keadaan sesuatu itu tidak berubah. Anak pada periode perkembangan ini dapat memahami panjang tali tidak berubah jika tali itu dibuat melingkar. Jumlah benda itu tidak berubah jika diletakkan berdekatan ataupun berjauhan. Volume suatu zat cair tidak berubah jika dipindahkan dan tabung yang satu ke tabung yang lain.
3.      Kemampuan mengurutkan, yaitu kemampuan menempatkan objek dalam urutan dan terkecil ke terbesar, dari terpendek ke terpanjang dan sejenisnya.
4.      Kemampuan negation, yaitu kemampuan untuk mengenal bahwa suatu tindakan itu dapat dikembalikan kepada keadaan asal. Identitas, yaitu kemampuan mengenal bahwa objek yang bersifat fisik akan mengambil volume atau jumlah tertentu.
5.      Kompensasi, yaitu kemampuan mengenal bahwa perubahan pada suatu dimensi akan dikompensasi oleh perubahan pada dimensi lain. Anak periode operasional akan berpikir bahwa ember itu akan memuat air lebih banyak daripada satu gelas, tetapi air di ember itu akan ada beberapa gelas.

4. Periode Operasi Formal (12 tahun ke atas)
Ciri utama periode operasi formal ialah perkembangan kecakapan berpikir simbolis dan pemahaman isi secara bermakna tanpa bergantung kepada keberadaan objek fisik, atau bahkan kepada imajinasi masa lain akan objek sejenis. Anak yang berada pada periode operasi formal mampu berpikir logis dan matematis, abstrak, dan bahkan mampu memahami hal-hal yang secara teoritis mungkin terjadi tetapi belum pernah terjadi dalam kenyataan.
5. Kesiapan Belajar dan Implikasi bagi Pembelajaran
Teori Piaget (Thomas L. Good dan Jere E. Brophy, 1990: 51-52) mengangkat konsep kesiapan dalam arti kognitif. Pigget memandang bahwa pikiran anak merupakan suatu struktur yang secara terus-menerus berkembang ke arah tingkat organisasi dan integrasi yang lebih tinggi. Konsep kesiapan ini menjadi luas, tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi tiga mencakup aspek kognitif dan minat. Kesiapan belajar atau kognitif anak dapat diciptakan atau dikembangkan dengan jalan menghadapkan anak kepada tugas-tugas satu tingkat paling dekat dengan tahap perkembangan pada saat ini.

D. Perkembangan Pribadi dan Sosial
Perkembangan pribadi mencakup perkembangan konsep diri, emosi, independensi dan tanggung jawab. Dalam aspek konsep diri, siswa mungkin masih cenderung berorientasi pada diri sendiri. Keinginan untuk menonjolkan diri masih cukup tinggi, belum mampu melibat diri secara objeltif dan menyadari akan perbedaan diri dengan orang lain mungkin masih rnerupakan ciri-ciri yang cukup kuat pada anak. Namun sejalan dengan tingkat perkembangannya, pada kelas-kelas tinggi konsep diri anak sekolah dasar diharapkan telah berorientasi kontekstual, yakni menunjukkan kesadaran akan hubungan diri dengan lingkungan dan bahwa lingkungan atau orang lain itu berbeda dengan dirinya.
Dalam aspek perkembangan emosi, anak sekolah dasar cenderung belum stabil. Kecenderungan untuk tidak toleran terhadap orang lain, agresif secara fisik, rendahnya kesadaran akan kesalahan diri, dan perilaku egoistis masih akan tampak pada anak sekolah dasar. Karakteristik perkembangan ini akan berubah menuju perilaku memahami orang lain, bersikap kooperatif, toleran, dan sadar akan kesalahan diri. Dengan kata lain akan ada pergeseran dan orientasi egoistis kepada orientasi altruistis (peduli akan kepentingan orang lain).
Erat kaitannya dengan konsep diri dan emosi ialah perkembangan tanggung jawab. Keraguan berbuat atas inisiatif sendiri atau mengambil keputusan tanpa menyadari resiko mungkin masih rnerupakan ciri dari perkembangan anak sekolah dasar. Kesadaran akan tanggung jawab pada anak sekolah dasar tampak antara lain pada hasrat untuk menentukan kegiatan sendiri, mcngambil inisiatif kesediaan bekerja sama, keberanian mengambil resiko, dan sikap tidak bergantung kepada guru.
E. Pendekatan Perkembangan dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Proses pembelajaran di sekolah dasar harus bersifat terpadu dengan perkembangan anak baik perkembangan fisik, kognitif, sosial, moral, maupun emosional. Dengan kata lain pengembangan bahan ajar dan proses pembelajaran di sekolah dasar harus bertolak dari prinsip ketercernaan bagi peserta didik. Pendekatan Developmentally Appropriate Practice(DAP) merupakan altennatif pembelajaran di sekolah dasar, yang menekankan prinsip ketercernaan, yang secara sistematis tugas ajar dan bahan ajar dirancang dan dilaksanakan sejalan dengan karakteristik perkembangan siswa terutama di kelas-kelas awal.
1. Hakikat Pendekatan Perkembangan
Pendekatan perkembangan di dalam pembelajaran menekankan kepada kepadanan kurikulum dan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Pendekatan ini memandang :
1.      anak sebagai subjek yang memiliki kecakapan mental yang berkembang terus,
2.      belajar sebagai proses kreatif,
3.      pengetahuan sebagai hasil belajar adalah suatu konstruksi yang terbentuk atas kotribusi bersama antara subjek dan objek; dan
4.      mengajar adalah menciptakan lingkungan belajar yang padan dengan perkembangan anak.
Konsep pendekatan perkembangan mengandung dua dimensi yaitu umur dan individual. Dimensi umur. Penelitian perkembangan manusia menunjukkan bahwa ada sekuensi dan perubahan yang universal dan dapat diramalkan yang terjadi pada usia anak, terutama usia 9 tahun pertama. Perubahan tersebut menyangkut aspek fisik, kognitif, sosial dan emosional.  Dimensi individual. Anak adalah pribadi yang unik baik dan aspek pola dan waktu perkembangan kepribadian gaya belajar, maupun latar belakang keluarga. Kurikulum dan interaksi orang dewasa dengan anak harus responsif terhadap keragaman individual. Belajar pada anak merupakan hasil interaksi antara pikiran dan pengalaman anak dengan bahan, gagasan, dan manusia lain. Pengalaman ini mesti padan dengan perkembangan minat, dan pemahaman anak. Pengetahuan tentang perkembangan anak diperlukan oleh guru untuk mengidentifikasi rentang perilaku, kegiatan, dan bahan ajar yang padan bagi kelompok usia tertentu.

2. Perkembangan dan Belajar Anak Usia Sekolah Dasar
a) Keterpaduan perkembangan dan belajar
Keterpaduan perkembangan dan belajar adalah hal penting untuk memahami perkembangan anak usia sekolah dasar sebagai landasan bagi pengembangan proses pembelajaran yang padan dengan perkembangan anak. Satu premis yang paling penting tentang perkembangan manusia ialah bahwa semua aspek perkembangan, fisik, emosional, sosial, dan kognitif, bersifat terpadu. Perkembangan dalam aspek yang satu akan mempengaruhi dan dipengaruhi aspek lain. Prinsip yang relevan dengan pembelajaran ialah bahwa kurikulum dan proses pembelajaran di sekolah dasar harus bersifat terpadu.
b) Perkembangan fisik
Pada usia sekolah dasar, perkembangan fisik anak cenderung lambat jika dibanding dengan pertumbuhan yang luar biasa pada lima tahun pertama. Kemampuan anak mengendalikan badan dan kemampuan duduk serta berada pada periode waktu yang lebih lama merupkan ciri perkembangan fisik anak usia sekolah dasar. Kegiatan fisik bagi anak usia sekolah dasar adalah hal yang esensial yang dapat memperhalus perkembangan keterampilan dan harga dirinya.
c) Perkembangan kognitif
Pola belajar anak usia sekolah dasar dipengaruhi kuat oleh pergeseran gradual dan tahap berpikir operasional awal ke operasional konkret. Pada usia ini anak mulai memiliki kecakapan berpikir tentang masalah dan pemecahannya kerap pada usia ini mereka mampu memanipulasi objek secara simbolis. Kurikulum dan proses pembelajaran harus relevan, dan bermakna bagi anak.
d) Perkembangan sosial-emosional dan moral
Guru harus mengetahui pentingnya pengembangan hubungan kelompok yang positif dan mengembangkan kesempatan dan dukungan bagi kerja sama kelompok yang tidak sekedar mengembangkan ranah kognitif, tetapi juga meningkatkan interaksi sebaya anak. Sebagai konsekuensi logis, guru sebaiknya membantu anak mempelajari perilaku yang layak daripada menghukum atau mengkritiknya.
3. Perkembangan Individual dalam Pendekatan Perkembangan
Prinsip utama dan pendekatan perkembangan ialah, bahwa anak itu unik, memiliki pola dan irama perkembangan, kepribadian gaya belajar, dan latar belakang keluarga tersendiri. Proses pembelajaran yang berorientasi pendekatan perkembangan bersifat fleksibel dalam hal kapan dan bagaimana anak memperoleh kompetensi tertentu. Mengenali keragaman individual mengisyaratkan perlunya variasi metode pembelajaran. Prinsip praktis yang relevan ialah bahwa anak usia sekolah dasar dan keragaman latar belakangnya, memperluas keragaman metode pengajaran dan bahan ajar.
Fleksibilitas pendekatan perkembangan terletak pula dalam bagaimana pengelompokan siswa dilakukan. Prinsip ini memungkinkan terjadinya penggabungan tingkat ke dalam kelas yang sama (multigrade/level) yang dalam keseharian di sekolah kita sering terjadi di sekolah-sekolah yang kekurangan guru.
4. Panduan bagi Implementasi Pendekatan Perkembangan
a. Pengembangan bahan ajar
Bahan ajar yang berorientasi pendekatan perkembangan dirancang padan dengan rentang usia di dalam kelompok dan diimplementasikan dengan memperhatikan keragaman kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan individual anak. Bahan ajar yang berorientasi pendekatan perkembangan dirancang untuk mengembangkan seluruh ranah perkembangan anak: fisik, sosial, emosi dan kognitif melalui pendekatan terpadu. Murid belajar tidak dalam mata pelajaran yang sempit melainkan dalam keterpaduan.
1)        Pengembangan bahan ajar didasarkan atas pengamatan dan catatan guru atas minat dan kemajuan perkembangan setia anak. Bahan ajar yang realistis didasarkan atas hasil asesmen kebutuhan, kekuatan dan minat indivadual siswa yang dikemas ke dalam kepadanan kelompok usia
2)        Pengenibangan bahan ajar menekankan kepada belajar sebagai proses interaktif. Guru menyiapkan lingkungan bagi anak untuk belajar melalui eksplorasi dan interaksi dengan orang dewasa, orang lain, dan bahan ajar: Hasil akhir atau pemecahan yang “benar” menurut patokan. orang dewasa bukanlah patokan mutlak untuk menimbang proses belajar yang terjadi pada anak.
3)        Kegiatan belajar dan bahan ajar harus konkret, riil, dan relevan dengan kehidupan anak. Anak memiliki kebutuhan bermain yang panjang dengan objek dan peristiwa nyata sebelum dia mampu memahami makna. simbol, seperti huruf dan angka.
4)        Bahan ajar yang disiapkan harus mengakomodasikan rentang perkembangan kecakapan dan minat, bukan semata-mata berdasarkan rentang usia kronologis dalam kelompok.
5)        Bahan ajar dan kegiatan belajar dikembangkan secara bervariasi, guru meningkatkan tingkat kesulitan, kompleksitas, kebaruan, dan tantangan dan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa di dalamnya.
6)        Bahan ajar dikembangkan dengan memperhatikan konteks budaya anak.
b.  Interaksi guru-siswa
Ciri pendekatan perkembangan paling tampak dalam interaksi antara orang dewasa (di sekolah adalah guru) dan anak. interaksi dalam pendekatan perkembangan didasarkan atas pengetahuan orang dewasa dan harapan akan perilaku anak usia sekolah dasar, diimbangi dengan kesadaran orang dewasa akan keragaman di antara anak. Pola dasar intéraksi yang dimaksud akan berwujud dalam bentuk-bentuk berikut ini.
1)        Guru secara cepat dan langsung merespons kebutuhan, keinginan, dan pesan, dan menyesuaikan responsnya dengan keragaman gaya dan kecàkapan individual. Respons diberikan dalam suasana hangat dan menumbuhkan kesan akan pemahaman dewasa terhadap anak.
2)        Guru mengembangkan berbagai kesempatan bagi anak untuk berkomunikasi. Anak memperoleh keterampilan berkomunikasi melalui mendengar dan penggunaan bahasa, tumbuh dan kehendak rnenggunakan bahasa untuk mengekspresikan kebutuhan, wawasan, kebanggaan, dan pemecahan masalah, anak tidak belajar bahasa dengan cara mendengarkan ceramah guru.
3)        Guru memberikan kemudahan bagi pencapaian tugas perkembangan melalui pemberian dukungan, pemberian perhatian, sentuhan fisik, dan dorongan-dorongan verbal berupa pujian dan sanjungan.
4)        Guru memahami sumber-sumber stres yang terjadi pada siswa dan secara sadar berupaya mengembangkan kegiatan dan teknik untuk mengurangi stres tersebut. Respons anak terhadap stres bersifat individual dan sejalan dengan gaya belajamya. Pemahaman dan kepekaan guru terhadap reaksi individual siswa merupakan kunci untuk perbaikan iklim interaksi yang lebih menyenangkan bagi anak.
5)        Guru mengembangkan kemudahan bagi perkembangan harga diri anak dengan cara menghargai dan nenerima anak. Bimbingan yang berlangsung dalam pendekatan perkembangan didasar oleh sikap menghargai anak, dan dimaksudkan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan rnengendalikan din dan mengambil keputusan untuk masa yang akan datang.
c.  Hubungan antara keluarga dan program
Agar program pembelajaran dapat mernenuhi kepadanan individual mutlak diperlukan hubungan kemitraan antara sekolah dan keluarga. Orang tua memiliki hak dan tanggung jawab di dalam mengambil keputuan tentang perawatan dan penididikan anaknya. Orang tua harus didorong untuk mengamati dan partisipasi dalam penyelenggaraan pembelajaran anaknya, guru bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mernelihara komunikasi dengan keluarga. Secara reguler guru dan orang tua perlu berbagi pengetahuan dan wawasan tentang anak.
d. Evaluasi berorientasi perkembangan
Evaluasi perkembangan dan belajar anak secara individual adalah hal esensial bagi perencanaan dan implementasi program pendekatan perkembangan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya diskrirninasi dan menjamin ketepatan evaluasi. Ketepatan testing dicapai jika instrumen yang digunakan valid dan reliabel, akan tetapi instrumen semacam ini jarang dikembangkan bagi keperluan evaluasi terhadap anak usia sekolah dasar. Oleh karens itu, evaluasi melalui pengukuran objektif (menggunakan tes) bukan cara mutlak yang dapat menentukan segalanya tentang perkembangan anak. Asesmen terhadap anak usia sekolah dasar perlu juga didasarkan atas hasil pengamatan terhadap perkenbangannya yang dinyatakan dalam data deskriptif.
Peran Guru Dalam Pengembangan Rancangan Pembelajaran
A. Hakikat Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran sebagai proses implementasi kurikulum, menuntut peran guru untuk mengartikulasikan kurikulum/bahan ajar serta mengembangkan dan mengimplementasikan program-Program pembelajaran dalam suatu tindakan yang akurat dan adekuat. Peran ini hanya mungkin dilakukan jika guru memahami betul tujuan dan isi kurikulurm serta segala perangkatnya untuk mewujudkan proses pembelajaran yang optimal.
1. Pembelajaran sebagai Inkuiri Refleks
Sebagai proses inkuiri refloktif pembelajaran mengandung makna sebagai proses sintesis dan analisis. Inkuiri di dalam pembelajaran mengandung makna mempertanyakan, menjelajahi lebih jauh, dan memperluas pemahaman lentang situasi. Sedangkan refleksi mengimplikasikan adanya dugaan, penilaian, dan pertirnbangan faktor-faktor yang signifikan terhadap pencapaian tujuan. Dengan. kata lain proses pembelajaran sebagai inkuiri refleksi sangat menekankan unsur aktivitas dan dinamika proses yang harus dipahami dan dihayati guru. Proses pembelajaran tidak sekedar menjadi wahana belajar bagi peserta didik tetapi juga wahana belajar bagi guru. Di dalain proses pembelajaran terjadi proses menjawab pertanyaan, mempertasiyakan jawaban, dan menipertanyakan pertanyaan. Jelasnya proses peinbelajaran adalah proses yang dinamis, proses yang berkembang terus, dan di dalam proses itu akan tejadi proses belajar. Dalam proses pembelajaran terkandung proses mengajar dan belajar, sebagai dua proses yang saling bergantung; mengajar hanya akan ada jika terjadi proses. Proses pembelajaran sebagai inkuiri reflektif akan menempatkan guru sebagai:
a)    individu yang sec.ara terus-menerus aktif belajar, Anda juga berperan sebagai siswa;
b)   seorang guru yang menantang siswanya untuk menjadi pelajar yang reflektif
c)    seorang profesional yang secara terus-menerus merefleksikan keefektifannya sebagai guru; serta
d)   seorang profesional yang selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya.

2. Perkembangan sebagai Tujuan Pembelajaran
Bukan hal mustahil bahwa pembelajaran yang ekselen (unggul) dikerjakan oleh guru-guru artistik yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang tujuan tetapi mereka secara intuitif memiliki pemahaman tentang apa proses pembelajaran yang baik, materi. sajian apa yang ;ianggap penting/betinakna, topik apa yang relevan dongan pengembangan peserta didik, bagaimana menyajikan bahan secara efektif, serta lagaimana menilai keberhasilan siswa. Akan tetapi, jika suatu program pendidikan atau pembelajaran dirancang dan diupayakan untuk dilakukan perbaikan secara berkesinambungan, bagaimanapun juga pemahaman akan konsep-konsep tujuan yang hendak dicapai adalah suatu keharusan bagi guru. Tujuan pembelajaran menjadi tolak ukur untuk memilih baban ajar. Merancang isi pembelajaran, mengembangkan prosedur pembelajaran, dan mempersiapkan tes dan ujian. Semua aspek program pembelajaran secara nyata merupakan instrumen untuk mencapai tujuan. Artinya jika mentaati program pembelajaran secara sistematis dan cermat, maka pertama-tama yang harus diyakini adalah tujuan yang hendak dicapai. Dalam kaitan dengan perkembangan peserta didik, proses pembelajaran memiliki fungsi:
a)    pengembangan, yakni membantu peserta didik mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan keunikannya;
b)   peragaman, yaitu membantu peserta didik memilih arah perkembangan yang tepat sesuai dengan potensi dan peluang yang diperolehnva;
c)    integrasi, yaitu membawa keragaman perkembangan ke arah dan tujuan yang sesuai dengan eksistensi kehidupan manusia.

B. Prosedur Pengembangan Rancangan Pembelajaran
1. Analisis Kurikulum
Di dalam praktek seorang guru dituntut untuk mengartikulasikan kurikulum ke dalam ragam dan rentang pengalaman belajar peserta didik. Artikulasi dan implementasi kurikulum yang ideal tadi akan sangat bersifat kontekstual dan bergantung kepada kondisi objektif guru maupun peserta didik. Oleh karena itu, sangat mungkin apa yang dilaksanakan dalam praktek tidak sepenuhnya mewujudkan hal-hal ideal yang terkandung dalam kurikulum tersebut. Dengan kata lain kurikulurn yang terlaksana (implemented curriculum) tidak selalu identik dengan kurikulum ideal. Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan analisis kurikulun yaitu sebagai berikut :
1)        Total waktu yang Anda miliki untuk menangani topik-topik utama yang harus diajarkan.
2)        Asumsi-asumsi yang Anda gunakan tentang pengetahuan dan keterampilan awal peserta didik untuk menilai mempelajari topik-topik baru.
3)        Tujuan umum belajar yang dirumuskan untuk siswa.


2. Tujuan Pembelajaran
Ada empat tipe tujuan pembelajaran. Pertama, tujuan keperilakuan, rumusan lujuan yang ada dalam bentuk perilaku siswa yang dapat diobservasi, diukur, dan diuji bahwa siswa sudah menguasai dengan baik perilaku yang harus dicapai secara khusus. Kedua, tujuan pemecahan masalah, merumuskan pembelajaran siswa dalam proses untuk menggunakan pikiran melalui pengkajian isu yang tak memiliki pemecahan spesifik. Ketiga, tujuan ekspresif, merumuskan pembelajaran siswa ke dalam tingkat pengalaman tinggi yang bermakna secara individual apakah sebelumnya sudah diantisipasi atau belum. Keempat, tujuan afektif, ada kesamaan dengan tujuan ekspresif, hanya tujuan afektif lebih terfokus kepada respons-respons emosional terhadap kurikulum dan pengalaran. Dalam tatanan paling rendah perilaku afektif direplikasikan dalam bentuk memperhatikan dan merespons.
3. Rancangan Kegiatan Pembelajaran
Secara operasional kegiatan pembelajaran yang tertuang di dalam satuan pelajaran diartikan sebagai sejumlah waktu yang dirancang untuk mengajari siswa suatu topik sederhana, bisa berupa konsep, keterampilan, proses, diskusi singkat tentang cerita pendek, atau suatu bagian dan novel. Kata sederhana mengandung arti bahwa setiap satuan pelajaran adalah hanya satu dan rangkaian satuan-satuan pelajaran yang saling terkait dan bekerja sama membantu siswa memahami hal-hal yang lebib kompleks. Setiap kegiatan pembelajaran dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup.
a. Kegiatan awal
Pada saat Anda memperkenailkan topik baru kepada siswa, perlu diingat bahwa siswa harus dibantu memahami topik itu dalam konteks keseluruhan pengajaran. Bagian pengantar dan satuan pelajaran dapat membantu siswa dalam hal-hal berikut.
1)   Mengaitkan hal-hal yang sudab dipelajari dengan hal-hal baru. Pengantar satuan pengajaran dapat diisi dengan mengingatkan kembali pengetahuan awal dan mengaitkannya dengan informasi baru sehingga pengetahuan awal itu dapat menjadi alat yang bermakna bagi proses belajarbaru.
2)   Memberi kesempatan path siswa untuk memahami topik secara keseluruhan sebelum mempelajari hal-hal yang terkandung dalam topik secara detail. Pemahaman ini dikembangkan melalui penyiapan penata awal (advance organizer), yaitu suatu cakupan rumusan yang memungkinkan siswa mengetahui informasi apa yang penting sebelum pembelajaran dimulai.
3)   Menumbuhkan hasrat ingin tahu siswa dan merangsang perhatian dan hasrat belajar siswa secara berkelanjutan.
4)   Menyadarkan siswa akan apa yang diharapkan guru dan siswa dalam atau selama pembahasan topik tersebut, di samping menyampaikan tujuan pembelajran.
b. Rancangan untuk kegiatan intipembelajaran
Banyak ragam konsep dan pemikiran tentang bagaimana proses dan kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Ada yang melihat sebagai suatu “Siklus Pelajaran” yang mengorganisasikan kegiatan mengajar ke dalam aspek-aspek rangkaian arah kegiatan guru (Hunter, :1984). Ada yang merumuskan ke dalam langkah-langkah terstrktur misalnya Posenshine dan Stevens (1986). Ada pula yang menekankan kepada model (Joyce dan Weil, 1986) yang tidak sependapat dengan adanya langkah-langkah sistematis dan standar di dalam poses pembelajaran.
Ini berarti bahwa banyak ragam rancangan yang dilaksanakan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang beraneka ragam pula. Walaupun demikien kegiatan pembelajaran dikehendaki mampu menumbuhkan dan niengembangkan hal-hal berikut ini.

1)   Mengantarkan siswa kepada informasi atau keterampilan baru.
2)   Mendorong siswa untuk mengkaji ulang atau menafsirkan ulang informasi atau keterampilan yang sudah dipelajari sebelumnya.
3)   Memungkinkan siswa mampu melihat kekurangan pada proses belajar sebelumnya dan mengisi kekurangan itu.
4)   Mendorong siswa untuk mengembangkan atau mmperkuat prosesproses fisik, kognitif, sosial, maupun afektif.
5)   Mendorong siswa untuk menghasilkan, mengorganisasikan dan menyatakan informasi baru itu dalam cara-cara yang kreatif.
6)   Mendorong siswa untuk memperkirakan dan memikirkan gagasan yang belum dikembangkan serta masalah yang belum terpecahkan.
Tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan menjadi pandahuluan bagi Anda dalam memikirkan keseluruhan proses pembelajaran, memutuskan basil yang paling penting yang harus dicapai, mengaitkan tujuan pembelajaran dengan tujuan kürikulum. Kegiatan pembelajaran adalah tugas-tugas akademik yang mendorong siswa berunjuk kerja ke ahali pencapaian tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Kegiatan adalah apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan guru, sebab belajar bergantung kepada apa yang ada dalam pikiran siswa. Guru dapat memberikan kuliah yang cemerlang, melaku.kan simulasi dan demonstrasi, tetapi jika kegiatan guru itu tidak di persepsi siswa sebagai sesuatu yang bermakna, maka sesunggubnya tidak terjadi proses belajar.
c. Kegiatan penutup
Pada kegiatan penutup, guru membimbing siswa untuk merumuskan ikhtisar yang bertjuan untuk:
1)   mengkaji ulang butir-butir penting dan isi dan kegiatan pembelajaran;
2)   memungkinkan siswa merefleksikan pembelajaran dan menggambarkan kumpulan dan pengalaman pembelajaran; serta
3)   memberikan gambaran tentang pembelajaran yang akan datang.
4. Perencanaan Evaluasi
Tujuan-tujuan yang sudah dirumuskan baik tujuan keperilakuan pemecahan masalah, maupun tujuan ekspresif menjadi landasan untuk mengetahui dan mengukur tingkat pencapaian tujuan dan kemajuan siswa. Semua kegiatan evaluasi ini disebut evaluasi sumatif yaitu evaluasi yang merangkum seluruh hasil belajar siswa pada jangka waktu tertentu. Evaluasi lain yang perlu dirancang adalah evaluasi formatif. Evaluasi ini maksudkan untuk melihat kemajuan siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Evaluasi formatif maupun sumatif harus dirancang secara konsisten dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
C. Rancangan Unit Pembelajaran
Dalam kaitan dengan rancangan pembelajaran. Anda perlu rnembedakan tujuan unit dan tujuan satuan pelajaran. Tujuan unit akan mencakup beberapa minggu kegiatan dan satuan pelajaran sebelun siswa dapat menguasai keseluruhannya. Satuan-satuan pelajaran akan terbangun dalam suatu kesatuan yang tertata ke dalarn suatu unit yang kohesif.
Setelah satuan-satuan pelajaran itu ditata, hal penting yang perlu dicek ulang ialah konsistensi antara tujuan, kegiatan dan evaluasi. Panting juga untuk dilakukan pengecekan konsistensi silang antarsatuan pelajaran untuk meyakinkan bahwa satuan-satuan pelajaran yang sudah dirancang itu rnemungkinkan siswa mencapai tujuan unit.






KESIMPULAN
Selagi pembelajaran merupakan proses pengembangan pribadi siswa, maka perkembangan siswa harus menjadi dasar bagi pembelajaran. Aspek-aspek perkembangan siswa yang mencakup perkembangan fisik dan motorik, kognitif, pribadi, dan sosial mempunyai implikasi penting bagi proses pembelajaran. Implikasi itu menyangkut pengembangan isi dan strategi pembelajaran, dan kerjasama sekolah dengan orangtua.
Proses pembelajaran di sekolah dasar harus bersifat terpadu dengan perkembangan fisik kognitif, sosial, moral, dan emosional. Pendidikan di sekolah dasar ini berorientasi kepada isi, artinya menekan kepada penguasaan isi pengetahuan, yaiti materi pelajaran. Pendekatan perkembangan dan pembelajaran menekankan kepada kepadanan kurikulum dan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Konsep pendekatan perkembangan ini ada dua dimensi yaitu dimensi umum dan dimensi individual.
Sisi penting dari pendekatan perkembangan ini adalah pengetahuan tentang faktor-faktor yang secara individu padan dengan anak tertentu di dalam kelas.
Proses pembelajaran meupakan proses inkuiri dan reflektif, yang menekankan pentingnya pengalaman dan penghayatan guru terhadap proses itu. Inkuiri di dalam pelajaran mengandung makna mempertanyakan, menjelajahi lebih jauh, dan memperluas pemahaman tentang situasi. Sedangkan refleksi menginflementasikan adanya dugaan, penilaian  dalam pertimbangan faktor-faktor signifikan dalam mencapai tujuan. Rancangan pembelajaran harus dikembangkan atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang berorientasi kepada perkembangan siswa. Perkembangan adalah tujuan pembelajaran. Rancangan pembelajaran baik rancangan jangka pendek maupun jangka panjang mencakup komponen-komponen: (a). Analisis kurikulum, yaitu kegiatan merumuskan rencana dan bahan ajar yang lebih bermakna dan sesuai perkembangan peserta didik. (b). Tujuan pembelajaran; ada empat tipe tujan pembelajaran yaitu tujuan perilaku, tujuan pemecahan masalah, tujuan eksprsif dan afektif. (c). Rencana kegiatan berisi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. (d). Rencana evaluasi; terdiri dari kegiatan evaluasi sumatif dan evaluasi formatif.  




















DAFTAR PUSTAKA
B. Uno, Hamzah. 2009. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksin Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
M. Goble, Norman. 1983. Perubahan Peranan Guru. Jakarta: PT. Gunung Agung.
Satori Djam’an. 2010. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.


1 opmerking:

  1. boleh tanya?? kalo interaksi guru-siswa itu literaturnya dari mana ya?? soalnya saya lagi butuh referensi untuk proposal saya... terima kasih sebelumnya...

    AntwoordVee uit